Penyanyi Onadio Leonardo akhirnya dinyatakan bebas setelah terseret kasus penyalahgunaan narkoba. Dalam sebuah kesempatan, ia menceritakan pengalamannya menjalani proses rehabilitasi.
Selama rehabilitasi, Onad juga menjalani proses konseling dengan psikolog sebanyak dua kali dalam seminggu. Dari situ terungkap, ia mengidap kondisi Peter Pan Syndrome yang membuat mentalnya 'terjebak' di usia 20-an.
"Setelah ngobrol konsul, gue kena peter pan syndrome, jadi gue itu nggak bisa move on, dari umur golden age gue, kayak usia 20. Jadi umur gue 35, tapi mentally gue menghadapi apapun dengan usia 20, karena itu golden age itu," ungkap Onad ketika berbincang dengan Denny Sumargo di kanal Youtube sang mantan pebasket, dikutip detikcom.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Happines gue yang paling besar di usia itu. Sampai tiga psikolog menangani gue. Ternyata gue nggak terima, gue lupa usia 35, punya istri, punya anak, cara gue menghandle usia 20." sambungnya.
Sebenarnya apa sih itu kondisi Peter Pan Syndrome? Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi menjelaskan 'Peter Pan Syndrome' sebenarnya bukanlah diagnosis resmi dari masalah kesehatan mental.
Peter pan syndrome merupakan label dari istilah populer untuk memudahkan masyarakat untuk memahami kondisi mental tertentu seseorang.
"Kondisi peter pan syndrome itu, bukan penyakit, bukan gangguan jiwa tidak ada dalam panduan diagnosis gangguan jiwa. Melainkan label yang secara populer di masyarakat sering disebut sehingga mempermudah orang dalam memahami," ungkap Sari ketika dihubungi detikcom, Senin (2/2/2026).
Sari menjelaskan secara umum Peter Pan Syndrome merupakan kondisi ketika seseorang berperilaku tidak sesuai dengan usianya. Ini melingkupi cara berpikir hingga pola pikirnya.
Beberapa tanda seseorang memiliki Peter Pan Syndrome yang lain seperti seringkali tidak mandiri hingga lebih memilih menghindari tanggung jawab.
"Bisa juga dia mengutamakan kepentingannya di atas kepentingan orang lain, maunya dimengerti orang lain, dibantu orang lain, kemudian kurang bisa disiplin," jelas Sari sambil menambahkan orang dengan kondisi cenderung tidak bisa menempatkan diri sesuai dengan tugasnya sebagai individu dewasa.
"Dia lebih mengikuti impulsivitas, dorongan kemauannya saja, sulit diatur," tandasnya.











































