Kelainan jantung bawaan masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Salah satu yang paling berbahaya adalah Tetralogi Fallot (TOF), yang cukup serius dan kerap penderitanya kebiruan sejak bayi. Kondisi ini termasuk dalam kategori jantung biru dan tergolong berbahaya sehingga membutuhkan penanganan cepat.
Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular, Dr dr Budi Rahmat, SpBTKV, SubspJPK(K) dari BraveHeart (Center Of Excellent) RS Brawijaya Saharjo, menjelaskan bahwa kelainan jantung bawaan terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni jantung biru dan tidak biru.
"Kelainan jantung yang tidak biru cenderung lebih 'silent' karena tidak langsung menimbulkan gejala berat. Sementara jantung biru lebih mudah dikenali dan risikonya jauh lebih tinggi," ujar dr Budi saat berbincang dengan detikcom, Senin (2/2/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan, belum lama ini dirinya menangani seorang bayi berusia 1 tahun 4 bulan dengan kondisi TOF. Pasien tersebut kerap mengalami batuk berulang, dan setiap kali menangis, seluruh tubuhnya berubah menjadi kebiruan. Tindakan ini dilakukan dr Budi di BraveHeart Center Brawijaya Hospital Saharjo.
"Kondisinya cukup khas. Saat menangis atau kelelahan, tubuh anak langsung tampak biru," ujar dr Budi.
Melihat gejala yang terus berulang, orang tua pasien akhirnya mencari dokter yang memiliki keahlian dalam menangani kelainan jantung bawaan. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, pasien didiagnosis mengalami Tetralogi Fallot (TOF) dan diputuskan untuk menjalani operasi koreksi total.
Menurut dr Budi, keputusan untuk segera menjalani tindakan medis sangat penting. Pasalnya, keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko gangguan tumbuh kembang, kerusakan organ vital, hingga mengancam nyawa anak.
Puluhan Ribu Bayi Lahir dengan Kelainan Jantung
dr Budi mengungkapkan diperkirakan sekitar 50 ribu bayi lahir dengan kelainan jantung bawaan di Indonesia setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 12.500 bayi tergolong kritis dan harus mendapatkan penanganan medis dalam waktu satu bulan pertama kehidupannya.
"Bayangkan, 12.500 anak per tahun itu harus ditangani dalam satu bulan," ujar dr Budi.
Namun, kemampuan penanganan kelainan jantung bawaan di Indonesia saat ini masih sangat terbatas. Secara nasional, jumlah kasus yang dapat ditangani baru mencapai sekitar 3.000 pasien per tahun, dan itu mencakup kelainan jantung bawaan secara umum.
"Ini menjadi tantangan besar karena masih banyak anak yang belum tertangani secara optimal," kata dr Budi.
Apa itu Tetralogi Fallot (TOF)?
Secara sederhana, jantung manusia terbagi menjadi dua sisi, kanan dan kiri. Sisi kanan bertugas membawa darah kotor ke paru-paru untuk dibersihkan, sementara sisi kiri mengalirkan darah bersih ke seluruh tubuh.
Pada Tetralogi Fallot (TOF), terdapat dua masalah utama. Pertama, kebocoran di bilik jantung yang membuat darah bersih dan kotor bercampur. Kedua, penyempitan aliran darah ke paru-paru, sehingga darah kotor sulit dicuci.
"Karena jalur ke paru-paru sempit, darah kotor lebih banyak mengalir ke tubuh. Itulah sebabnya anak terlihat biru," jelas dr Budi.
Tingkat keparahan TOF sangat bergantung pada seberapa sempit aliran darah ke paru-paru. Semakin sempit, kondisi anak semakin kritis dan berisiko meninggal.
Gejala dan Bahaya TOF
Gejala TOF tidak langsung terlihat saat bayi lahir. Namun, ada beberapa tanda khas yang bisa dikenali orang tua, antara lain:
- Bibir, hidung, kelopak mata, dan ujung jari tampak kebiruan
- Anak mudah lelah dan napas cepat
- Berat badan sulit naik
"Anak yang capek bermain biasa tidak akan biru. Kalau capek lalu biru, itu harus dicurigai," tegas dr Budi.
Jika tidak ditangani, TOF dapat mengganggu tumbuh kembang anak, merusak organ vital, hingga menyebabkan kematian.
Kabar baiknya, TOF dapat ditangani melalui operasi koreksi total, yaitu menutup lubang di sekat jantung dan melebarkan saluran ke paru-paru. Operasi ini dilakukan dengan bantuan mesin jantung paru (heart-lung-machine) yang menggantikan fungsi jantung dan paru-paru sementara waktu.
"Dengan teknologi saat ini, angka keberhasilan operasi sangat tinggi. Tingkat kegagalan di dunia sekitar 1,5 - 2 persen, dan kita di Indonesia terus menuju ke angka tersebut saat ini di kisaran 3%," tutupnya.
Di Indonesia, TOF menyumbang sekitar 5-10 persen dari seluruh kasus PJB. Insidensinya diperkirakan mencapai 3 hingga 5 kasus per 10.000 kelahiran hidup, dengan ratusan operasi dilakukan setiap tahun di rumah sakit rujukan.
Keberhasilan ini menegaskan komitmen BraveHeart Center Brawijaya Hospital Saharjo dalam menghadirkan layanan jantung komperhensif yang penuh kepedulian, berorientasi keselamatan, dan memberikan harapan nyata bagi pasien dan keluarga.
Simak Video "Video Wamenkes: Kelainan Jantung Anak Angkanya 8 dari 1000 Kelahiran "
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)











































