Onadio Leonardo mengungkapkan selama menjalani rehabilitasi, ia juga rutin berkonsultasi dengan psikolog. Sesi konsultasi tersebut biasanya dilakukan dua kali dalam seminggu.
Dari rangkaian sesi itu, terungkap bahwa ia mengidap Peter Pan Syndrome. Menurut Onadio, kondisi tersebut membuat mentalnya seolah terjebak di usia 20-an. Salah satu contohnya, ketika dihadapkan pada masalah, ia cenderung merespons dengan pola pikir dan mental layaknya orang berusia 20-an, bukan 30-an seperti usia dirinya saat ini.
Ia menyebut usia 20-an menjadi usia emas baginya sehingga ada kecenderungan rasa 'tidak terima' kini dirinya sudah lebih dewasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebenarnya apa saja sih kemungkinan penyebabnya?
Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi menjelaskan 'Peter Pan Syndrome' sebenarnya bukanlah diagnosis resmi dari masalah kesehatan mental. Ia menyebut ini adalah label populer yang diberikan pada orang dengan kondisi tertentu, agar lebih mudah dipahami masyarakat.
Menurut Sari, kondisi Peter Pan Syndrome secara umum dapat disebabkan oleh faktor pergaulan dan pola asuh orang tua. Orang dengan kondisi ini biasanya memiliki kecenderungan sifat kanak-kanak yang kuat.
Ketika seseorang terlalu dimanjakan semasa kecil, dapat muncul anggapan dalam benak agar orang lain melakukan hal sama padanya. Ini bisa terjadi pada keluarga, teman, atau pasangan.
Sementara itu, anak yang tumbuh dalam pola asuh terlalu protektif dapat membuat anak menjadi sulit atau tidak berani mengambil keputusan. Kondisi ini dapat membuat seseorang lebih sulit dalam mengemban tanggung jawab ketika dewasa.
"Yang over-protective itu juga sama akhirnya dia terbiasa berani ngambil keputusan, terbiasa mengikut orang lain, apa yang diputuskan atau diarahkan orang lain," ungkap Sari.
"Kemudian lepas dari tanggung jawab karena dia berasa kebal terhadap kegagalan, tanggung jawab, kritik, masukan dan lain-lain sudah kebal," tandasnya.
Berikut ini adalah sederet tanda-tanda seseorang memiliki 'Peter Pan Syndrome':
- Berperilaku atau berpikir tidak sesuai usia.
- Cenderung tidak mandiri.
- Cenderung menghindari tanggung jawab.
- Mengutamakan kepentingan pribadi daripada orang lain.
- Selalu ingin dimengerti orang lain.
- Selalu ingin dibantu orang lain.
- Kurang disiplin.
- Tidak bisa menempatkan diri sesuai dengan tugasnya sebagai individu dewasa.
- Lebih mengikuti impulsivitas.











































