CATATAN: Depresi dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh atau fisik. Jika gejala depresi semakin parah, segeralah menghubungi dan berdiskusi dengan profesional seperti psikolog, psikiater, maupun langsung mendatangi klinik kesehatan jiwa. Konsultasi online secara gratis juga bisa diakses melalui laman Healing119.id.
Siswa kelas 4 sekolah dasar (SD) berinisial YBR di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) bunuh diri. Anak usia 10 tahun itu juga sempat menuliskan pesan terakhir yang isinya tersebar dan membuat banyak perbincangan.
Anak tersebut diduga bunuh diri setelah kecewa tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah. Ibunya menolak permintaan YBR karena dalam kondisi ekonomi yang susah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut pengakuan ibunya, permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal," ucap Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, dikutip dari detikBali, Rabu (4/2/2026).
Berkaitan dengan hal tersebut, spesialis kesehatan jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ berbicara terkait sudut pandang kesehatan jiwa pada anak dan remaja. Ia menuturkan anak berusia 9-10 tahun sudah mulai memahami konsep kematian sebagai sesuatu yang permanen.
Namun, pemahaman tersebut belum matang secara kognitif dan emosional.
"Anak tidak sedang ingin mati, ia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat," ungkap dr Lahargo, pada detikcom, Rabu (4/2/2026).
Dari sudut pandang kesehatan jiwa, anak belum mampu menimbang konsekuensi jangka panjang. Anak juga cenderung memiliki cara berpikir yang konkret atau hitam putih.
Ketika anak tertekan, mereka mudah sampai pada kesimpulan yang sangat ekstrem. Misalnya, menganggap masalah akan selesai jika dirinya tidak ada.
dr Lahargo menambahkan bahwa bunuh diri bukan hanya isu dewasa, tetapi juga muncul pada kelompok usia muda ketika distres psikologis bertemu dengan minimnya dukungan emosional.
"Pada anak, bunuh diri bukan soal kematian, tapi tentang keputusasaan yang tak punya bahasa," ucap dia.
Di sisi lain, dia menyoroti peran ekonomi dan beban sistemik terhadap kesehatan mental anak. Katanya, ekonomi sangat berpengaruh secara tidak langsung namun mendalam.
Pada anak, mereka cenderung menyerap stres orang tua, merasa dirinya penyebab kesulitan keluarga hingga muncul rasa bersalah dan tanggung jawab semu.
"Ketika anak memikul beban orang dewasa, itu tanda sistem belum cukup memeluk," tandasnya.
Simak Video "Video: Respons Menkes Budi soal Siswa SD di NTT Bunuh Diri"
[Gambas:Video 20detik]
(avk/kna)











































