Pentingnya Mengenali Perubahan Perilaku demi Cegah Kasus Bunuh Diri Anak

Pentingnya Mengenali Perubahan Perilaku demi Cegah Kasus Bunuh Diri Anak

Averus Kautsar - detikHealth
Rabu, 04 Feb 2026 10:17 WIB
Pentingnya Mengenali Perubahan Perilaku demi Cegah Kasus Bunuh Diri Anak
Ilustrasi. (Foto: iStock)
Jakarta -

CATATAN: Depresi dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh atau fisik. Jika gejala depresi semakin parah, segeralah menghubungi dan berdiskusi dengan profesional seperti psikolog, psikiater, maupun langsung mendatangi klinik kesehatan jiwa. Konsultasi online secara gratis juga bisa diakses melalui laman Healing119.id.

Spesialis kesehatan jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ buka suara terkait kasus anak SD berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) bunuh diri. Keadaan ekonomi disebut-sebut jadi pemicu tragedi memilukan tersebut.

Menurut dr Lahargo, ada beberapa perubahan perilaku yang bisa menjadi tanda peringatan dini. Ia menyebut perubahan perilaku adalah 'alarm' yang paling penting, karenanya orang tua harus lebih memperhatikan kondisi anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Contohnya menarik diri, menjadi sangat pendiam, kemudian perubahan drastis emosi seperti murung, mudah menangis, dan cepat marah," kata dr Lahargo pada detikcom, Rabu (4/2/2026).

ADVERTISEMENT

Beberapa tanda lain yang mungkin dapat muncul adalah gangguan tidur dan mimpi buruk secara berulang. Secara akademik, anak mungkin juga akan mengalami penurunan prestasi dan kehilangan minat bermain.

Selain itu, tanda lain yang muncul adalah ucapan-ucapan bernada putus asa yang keluar dari mulut anak. Misalnya seperti, 'aku capek hidup' dan 'aku cuma bikin repot'.

"Mayoritas anak yang bunuh diri sebenarnya menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, namun sering tidak terbaca atau diabaikan. Perilaku anak berubah bukan tanpa sebab, itu cara jiwa meminta tolong," jelasnya.

Pencegahan kejadian seperti ini harus melibatkan banyak pihak. Ini bukan hanya tugas bagi keluarga, melainkan untuk sekolah, masyarakat, dan negara.

Orang tua dalam keluarga harus bisa membangun komunikasi yang emosional dengan anak, bukan hanya sekedar disiplin. Mereka juga harus bisa memvalidasi perasaan anak sebelum memberi nasihat dan orang tua juga perlu berani mencari bantuan, bukan menahan sendiri.

Sementara itu, di sekolah guru harus dilatih mengenali tanda distres psikologis dan melakukan pertolongan pertama pada psikologis. Sistem konseling harus bersifat aktif dan sekolah juga semestinya menekankan budaya anti-bullying.

"Untuk di masyarakat dan negara, akses layanan kesehatan jiwa diperluas, literasi kesehatan mental sejak dini, dan kebijakan yang sensitif terhadap dampak ekonomi pada keluarga," katanya.

"WHO menegaskan bahwa bunuh diri dapat dicegah, dengan intervensi dini, sistem dukungan kuat, dan lingkungan yang aman secara emosional," tandas dr Lahargo.

Halaman 2 dari 2
(avk/kna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads