Menkes Bicara Kesehatan Mental Anak, Respons Kasus Bocah 10 Tahun Bunuh Diri di NTT

Menkes Bicara Kesehatan Mental Anak, Respons Kasus Bocah 10 Tahun Bunuh Diri di NTT

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Rabu, 04 Feb 2026 14:08 WIB
Menkes Bicara Kesehatan Mental Anak, Respons Kasus Bocah 10 Tahun Bunuh Diri di NTT
Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng
Jakarta -

Kasus dugaan bunuh diri seorang siswa kelas IV SD berusia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perhatian luas hingga ke tingkat nasional. Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko menyebut kabar tersebut bahkan telah sampai ke Istana Negara.

Polda NTT telah memerintahkan jajaran Polres Ngada untuk memberikan santunan dan pendampingan psikologis kepada keluarga korban. Tim psikolog dan konselor juga telah diterjunkan. Dari penyelidikan awal, dugaan motif sementara karena korban kecewa tidak dibelikan buku dan pulpen, meski polisi menegaskan pendalaman masih terus dilakukan.

Di tengah sorotan kasus ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan persoalan yang jauh lebih besar di baliknya: krisis kesehatan mental anak yang selama ini luput terdeteksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menkes mengungkapkan Kementerian Kesehatan baru mulai melakukan skrining kesehatan mental anak secara sistematis.

"Kesehatan mental anak memang kita sudah skrining, kita nemu ada 10 juta. Nah itu yang sekarang saya mau siapkan ada psikolog klinis di masing-masing Puskesmas, supaya penyakit yang sebelumnya nggak pernah terlayani ini, bisa dilayani," beber Budi saat ditemui di South Quarter, Jakarta Selatan, Rabu (5/2/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, selama ini Indonesia tidak memiliki gambaran nyata mengenai besarnya masalah kesehatan jiwa pada anak karena belum pernah dilakukan skrining masif. Setelah skrining dilakukan, barulah terlihat skala persoalan yang sebenarnya.

"Kita kan baru mulai skrining. Sebelumnya kan nggak, kita nggak tahu ada masalah kejiwaan di anak. Sekarang sudah tahu ada 10 juta. Nah itu yang harus kita perbaiki," jelasnya.

Budi menegaskan, solusi yang tengah disiapkan pemerintah bukan hanya di fasilitas kesehatan, tetapi juga menyasar lingkungan sekolah. Puskesmas, kata dia, tidak hanya bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan masyarakat umum, tetapi juga harus aktif menjangkau sekolah-sekolah.

"Dan Puskesmas itu tanggung jawab juga ke sekolah-sekolah. Karena ini penting sekali kita kerja sama-sama," katanya.

Artinya, ke depan peran Puskesmas akan diperluas bukan hanya sebagai tempat berobat, tetapi juga sebagai pusat deteksi dini masalah kesehatan mental anak, yang terhubung langsung dengan sekolah.

Menkes mengakui tren kesehatan mental anak memang mengkhawatirkan, tetapi selama ini tidak terlihat karena tidak pernah diukur. Dengan adanya data skrining, pemerintah kini memiliki dasar untuk melakukan intervensi yang lebih terarah.

Pendekatan yang disiapkan adalah menempatkan psikolog klinis di Puskesmas agar anak-anak yang terdeteksi memiliki masalah psikologis bisa segera mendapatkan penanganan, sebelum kondisi memburuk.

"Supaya bisa diobati, seperti itu," ujar Budi.

Pernyataan Menkes sekaligus memperlihatkan kasus di Ngada bukan sekadar peristiwa individual, melainkan cerminan persoalan kesehatan mental anak yang selama ini tersembunyi dan belum tertangani secara sistematis.

Diberitakan sebelumnya, siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT, ditemukan tewas gantung diri, Kamis (29/1/2026). Bocah laki-laki berinisial YS itu ditemukan di kebun milik neneknya.

Camat Jerebuu Bernardus H Tage menjelaskan, YS sehari-hari tinggal bersama neneknya di pondok tersebut, sementara orang tuanya berada di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, YS menginap di rumah orang tuanya, lalu pagi harinya kembali ke pondok. Ia tidak pergi sekolah.

Saat peristiwa terjadi, neneknya tidak berada di pondok karena menginap di rumah tetangga. YS ditemukan oleh warga yang hendak mengurus ternaknya di kebun. Polisi kemudian datang melakukan evakuasi.

NOTE: Jika kamu atau orang sekitar tengah mengalami tekanan emosional berat atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, bantuan profesional sangat penting. Segera menghubungi layanan darurat 112 atau mencari bantuan ke Puskesmas/rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pendampingan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Respons Menkes Budi soal Siswa SD di NTT Bunuh Diri"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads