Media sosial diramaikan dengan kabar seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia karena bunuh diri. Anak berinisial YBR yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu sempat menuliskan pesan terakhirnya untuk sang orang tua.
Dilaporkan, anak tersebut diduga bunuh diri karena tidak dibelikan buku dan alat tulis untuk keperluan sekolah. Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menyebut keluarga YBR berada dalam keadaan ekonomi yang tidak baik.
"Menurut pengakuan ibunya, permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal," ucap Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, dikutip dari detikBali, Rabu (4/2/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berkaitan dengan kejadian tersebut, spesialis kesehatan jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ mengungkapkan anak pada usia 9-10 tahun sudah memahami konsep kematian dan bunuh diri. Namun, pemahaman mereka terkait dua hal tersebut belum matang secara emosional dan kognitif.
Pada kondisi ini, anak memang belum mampu menimbang konsekuensi jangka panjang dan memiliki kecenderungan cara pikir yang hitam-putih. Ketika tertekan, anak pada akhirnya lebih mudah sampai pada kesimpulan-kesimpulan ekstrem, seperti 'kalau aku tidak ada, masalah akan selesai'.
dr Lahargo berpendapat kondisi ini membuat anak tidak tahu harus melakukan apa ketika dalam tekanan yang begitu besar.
"Anak tidak sedang ingin mati, ia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat. Pada anak, bunuh diri bukan soal kematian, tapi tentang keputusasaan yang tak punya bahasa," ungkap dr Lahargo pada detikcom, Rabui (4/2/2026).
Faktor Risiko Kasus Bunuh Diri pada Anak
dr Lahargo menjelaskan setidaknya ada tiga faktor risiko utama kenapa hal ini bisa terjadi, meliputi faktor individu, keluarga, dan lingkungan. Pada faktor individu, orang mungkin sedang mengalami depresi, kecemasan berat, hingga kesulitan regulasi emosi.
Perasaan bersalah secara berlebihan juga dapat memberi beban yang berat pada kondisi tertentu.
"Faktor keluarga, bisa berupa tekanan ekonomi kronis, konflik keluarga, kekerasan fisik atau verbal, hingga orang tua yang mengalami stres berat atau gangguan mental," kata dr Lahargo.
Sementara itu, faktor lingkungan yang dapat memengaruhi meliputi perundungan, isolasi sosial, hingga paparan konten bunuh diri yang muncul di media atau media sosial, tanpa pendampingan.
"Bunuh diri pada anak hampir selalu lahir dari akumulasi, bukan satu kejadian," tambahnya.
Ciri-ciri Perubahan Perilaku Anak Bisa Jadi 'Alarm'
Menurutnya, perubahan sikap anak bisa menjadi salah satu pertanda awal adanya masalah pada kesehatan mental anak. Misalnya, anak menjadi menarik diri, menjadi sangat pendiam, atau munculnya perubahan drastis dari emosi, seperti murung, mudah menangis, dan cepat marah.
Beberapa tanda lain yang dapat muncul adalah penurunan prestasi anak di sekolah dan hilangnya minat anak dalam bermain.
"Ciri lain, ucapan bernada putus asa, seperti 'aku capek hidup' atau 'aku cuma bikin repot'. Kemudian tanda lain adalah gangguan tidur hingga mimpi buruk yang berulang," jelas dr Lahargo.
Masalah ekonomi bisa menjadi pengaruh besar pada kesehatan mental anak, meski tidak secara langsung. Pada kondisi ini, anak bisa 'menyerap' stres yang dirasakan orang tua, kemudian ini memicu anak merasa menjadi sumber kesulitan keluarga.
Secara sistemik, menurut dr Lahargo ini bukan semata kegagalan individu, tapi ada faktor yang lebih besar.
"Tapi juga minimnya layanan kesehatan jiwa anak yang mudah diakses. Rendahnya literasi kesehatan mental, serta lemahnya sistem deteksi dini di sekolah dan komunitas," tandas dr Lahargo.
Angka Kasus Bunuh Diri RI Meningkat
Terjadi peningkatan kasus angka bunuh diri di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data Kepolisian Republik Indonesia, jumlah kasus bunuh diri tercatat meningkat dari sekitar 1.350 kasus pada tahun 2023 menjadi 1.445 kasus pada tahun 2024.
"Tren serupa juga terlihat di Provinsi Nusa Tenggara Timur, di mana jumlah kasus bunuh diri yang terlaporkan meningkat dari 7 kasus pada tahun 2023 menjadi 11 kasus pada tahun 2024," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr Imran Pambudi, MPHM, pada detikcom, Rabu (4/2/2026).
Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan masalah kesehatan jiwa sudah muncul sejak usia muda. Prevalensi masalah kesehatan jiwa pada penduduk usia 15 tahun ke atas tercatat sebesar 2 persen, dan 0,25 persen di antaranya melaporkan adanya pikiran untuk mengakhiri hidup dalam satu bulan terakhir.
Imran mengatakan data-data ini berguna sebagai penguatan landasan kebijakan pencegahan bunuh diri pada anak dan remaja melalui pendekatan berlapis.
"Mulai dari penguatan promosi dan literasi kesehatan jiwa, deteksi dini, penguatan layanan kesehatan primer, hingga dukungan lintas sektor," sambungnya.
Tindakan dari Kementerian Kesehatan
Imran mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) NTT dan Dinkes Kabupaten Ngada untuk melakukan pendalaman data. Salah satu yang diperiksa adalah bagaimana sistem skrining kesehatan jiwa di wilayah tersebut berjalan.
"Pendalaman ini dilakukan untuk memastikan langkah tindak lanjut yang diambil berbasis data dan berorientasi pada penguatan sistem ke depan," ungkapnya.
Imran menegaskan aksi bunuh diri pada anak tidak bisa dilihat semata-mata dari sisi kesehatan mental. Perilaku ini merupakan persoalan multifaktorial yang muncul dari interaksi berbagai unsur biologis, psikologis, sosial, hingga lingkungan.
Ia menjelaskan, tekanan psikologis pada anak dapat semakin berat akibat kondisi kemiskinan, kerentanan sosial ekonomi keluarga, terbatasnya akses terhadap pendidikan dan layanan dasar, kualitas relasi dalam keluarga, serta dinamika pergaulan dan lingkungan sekolah.
Imran menyampaikan Kemenkes memiliki peran dalam mendorong promosi serta peningkatan literasi kesehatan jiwa, melakukan deteksi dini, dan menyediakan layanan yang dibutuhkan. Selain itu, pihaknya akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dengan kementerian lain, guna menjalankan upaya pencegahan secara terpadu.
"Kami meyakini bahwa pencegahan bunuh diri pada anak membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa promosi kesehatan jiwa, deteksi dini, pendampingan yang konsisten, serta kehadiran sistem yang responsif sangat penting agar anak tidak menghadapi tekanan hidupnya sendirian," tandasnya.











































