Pilu Bocah NTT Akhiri Hidup, Psikolog Jelaskan Kondisi Mental Anak Usia 10 Tahun

Pilu Bocah NTT Akhiri Hidup, Psikolog Jelaskan Kondisi Mental Anak Usia 10 Tahun

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Kamis, 05 Feb 2026 07:39 WIB
Pilu Bocah NTT Akhiri Hidup, Psikolog Jelaskan Kondisi Mental Anak Usia 10 Tahun
Ilustrasi anak depresi. (Foto: iStock)
Jakarta -

CATATAN: Depresi dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh. Jika Anda atau orang terdekat merasakan gejala depresi, segeralah menghubungi profesional seperti psikolog atau psikiater, atau kunjungi klinik kesehatan jiwa terdekat. Konsultasi online gratis juga tersedia melalui laman Healing119.id.

Publik baru-baru ini dikejutkan oleh tragedi yang menimpa seorang siswa kelas 4 Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT. Bocah berusia 10 tahun tersebut nekat mengakhiri hidupnya diduga karena kecewa permintaannya untuk membeli alat tulis sekolah ditolak oleh sang ibu lantaran kondisi ekonomi yang sulit.

"Menurut pengakuan ibunya, permintaan itu (uang beli buku tulis dan pulpen) diminta korban sebelum meninggal," ujar Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, Rabu (4/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tragedi memilukan ini memicu pertanyaan besar bagi masyarakat, Bagaimana sebenarnya kondisi mental dan pemahaman anak usia 10 tahun terhadap konsep kematian?

Psikolog klinis Anna Surti Ariani, yang akrab disapa Nina, menjelaskan bahwa pemahaman anak mengenai kematian berkembang seiring bertambahnya usia. Ia membagi fase kognitif anak dalam memandang kematian menjadi beberapa tahap.

ADVERTISEMENT

Anak pada rentang usia 2-7 tahun belum memahami kematian sebagai sesuatu yang final.

"Yang mereka pahami, kematian itu bisa balik lagi. Misalkan ada orang meninggal, kalau dipanggil itu bisa bangun lagi karena pemahaman kognitifnya berbeda," jelas Nina dalam acara detikSore, Rabu (4/1/2026).

Lalu di usia 7-12 tahun, anak mulai memahami secara umum bahwa kematian bersifat permanen bagi orang lain. Namun, pemahamannya menjadi rancu ketika dikaitkan dengan dirinya sendiri.

"Ketika dia memahami kematian pada dirinya, dia mengira setelah mati itu dia masih bisa melakukan banyak hal lagi. Jadi, tidak betul-betul menyadari bahwa kalau sudah mati, tidak bisa hidup lagi," ucap Nina.

Di usia remaja yakni di atas 12 tahun, anak baru benar-benar menyadari sepenuhnya bahwa kematian bersifat permanen dan tidak dapat ditarik kembali.

Pentingnya Hubungan Hangat Orang Tua

Menurut Nina, ketidakpahaman anak terhadap sifat permanen kematian sering kali membuat mereka mengambil keputusan fatal saat merasa tertekan atau kecewa berat.

Oleh karena itu, peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental anak sangat krusial. Nina menegaskan perlunya membangun hubungan yang dekat dan hangat antara orang tua dan anak. Tujuannya adalah agar anak memiliki "ruang aman" untuk mengekspresikan perasaan mereka.

"Supaya anak-anak tidak mendapat pandangan yang tidak tepat tentang kematian itu. Dan supaya juga mereka merasa punya tempat untuk berbagi cerita tanpa merasa dihakimi," pungkas Nina.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Respons Menkes Budi soal Siswa SD di NTT Bunuh Diri"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads