Psikolog: Keputusan Bunuh Diri Anak Tak Sesederhana Tidak Dibelikan Alat Tulis

Psikolog: Keputusan Bunuh Diri Anak Tak Sesederhana Tidak Dibelikan Alat Tulis

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Kamis, 05 Feb 2026 10:02 WIB
Psikolog: Keputusan Bunuh Diri Anak Tak Sesederhana Tidak Dibelikan Alat Tulis
Ilustrasi (Foto: Getty Images/D-Keine)
Jakarta -

CATATAN: Depresi dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh. Jika Anda atau orang terdekat merasakan gejala depresi, segeralah menghubungi profesional seperti psikolog atau psikiater, atau kunjungi klinik kesehatan jiwa terdekat. Konsultasi online gratis juga tersedia melalui laman Healing119.id.

Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si menyoroti peran atau dampak media sosial terkait kasus bunuh diri anak laki-laki berusia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ini setelah muncul anggapan bahwa sosial media sedikit banyak memiliki peran bagi siapa saja, termasuk anak-anak dalam mengambil sebuah keputusan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masalahnya bukan hanya di sosmed-nya ya, tapi juga literasinya bagi yang mendapatkan sosmed itu," kata Anna di acara detikSore, Rabu (4/2/2026).

"Misalnya, kalau anak sudah sampai terpapar sosmed, artinya orang tua juga punya tanggung jawab untuk membuat anaknya paham. Bahwa apa yang dilihat di sosmed itu tidak selalu hal-hal yang sesungguhnya," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Di sinilah, psikolog yang akrab disapa Nina tersebut melihat pentingnya orang tua dalam memberi pagar atau batasan kepada si kecil untuk bermain sosial media, sehingga bisa meminimalisir dampak negatif yang diberikan.

"Orang tua perlu benar-benar paham, apa sih yang dibuka, dibaca oleh anak-anaknya dan itu hanya mungkin terjadi kalau orang tua dan anak punya keterbukaan yang baik," kata Nina.

Keputusan Bunuh Diri Anak Tidak Sesederhana Itu

Psikolog Nina menekankan bahwa media sosial hanyalah salah satu faktor. Masalah utama sering kali terletak pada literasi digital dan akumulasi masalah emosional yang tidak tersampaikan.

Terkait kasus bunuh diri yang dilakukan anak, Nina menjelaskan bahwa keputusan untuk percobaan atau memiliki pemikiran mengakhiri hidup tidaklah muncul hanya karena satu faktor.

"Jadi yang perlu kita cermati adalah tidak mungkin penyebab bunuh diri itu hanya satu macam saja. Artinya tidak mungkin kalau hanya gara-gara faktor ekonomi, hanya karena ditolak alat sekolahnya kemudian seorang anak memutuskan bunuh diri," katanya.

"Kemungkinan besar ada akumulasi dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi," sambungnya.

Misalnya alat sekolah itu sudah lama ia minta namun tidak diberi, mendapatkan perundungan dari teman sekolah, selalu dianggap kurang, hingga dianggap jelek.

Namun, Nina menyadari bahwa tidak semua keinginan anak harus dituruti, sehingga di sinilah komunikasi itu memiliki peran penting.

"Katakanlah orang tua tidak mampu membelikan sesuatu, maka janganlah menyampaikannya sambil marah-marah, jangan pula sambil nangis-nangis berlebihan," kata Nina.

Penyampaian itu penting, menurut Nina ini akan berdampak dengan bagaimana anak menerima situasi. Anak bisa saja merasa bersalah dan menganggap bahwa dirinya sebagai beban keluarga.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Gen Alpha Disebut Lebih Rentan Depresi, Kenapa?"
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/kna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads