Cuma karena Dengar Lagu, Anxiety Datang Menyerbu? Ada Penjelasan Ilmiahnya

Cuma karena Dengar Lagu, Anxiety Datang Menyerbu? Ada Penjelasan Ilmiahnya

detikHealth
Senin, 09 Feb 2026 07:01 WIB
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Ditulis oleh:
Fitri Isnia Nuryani, S.Pt
Sarjana peternakan dari IPB University dengan peminatan pada nutrition and feed technology. Saat ini merupakan peserta program Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan, sebagai penulis artikel gaya hidup
Cuma karena Dengar Lagu, Anxiety Datang Menyerbu? Ada Penjelasan Ilmiahnya
Anxiety bisa muncul karena trigger tertentu, termasuk lagu. Foto: Getty Images/AlekseiAntropov
Jakarta -

Media sosial dihebohkan oleh pengakuan seorang perempuan yang mengalami serangan kecemasan mendadak saat mendengar lagu tertentu diputar di ruang publik. Dari sisi kesehatan mental, kondisi ini bukan tanpa alasan. Lagu memang dapat menjadi pemicu (trigger) trauma yang tersimpan di otak dan membuat anxiety kambuh tiba-tiba, meski peristiwa traumatisnya telah lama berlalu.

Fenomena ini mencuat setelah sebuah unggahan di TikTok menyebar luas. Dalam ceritanya, perempuan tersebut mengungkapkan bagaimana rasa cemas yang sebelumnya terkendali muncul mendadak saat mendengar lagu yang berkaitan dengan pengalaman pahit di masa lalu, hingga membuatnya merasa tidak aman di tengah keramaian.

Dari sudut pandang kesehatan mental, reaksi tersebut bukan sekadar perasaan sensitif atau berlebihan. Sejumlah penelitian psikologi dan psikiatri menunjukkan bahwa trauma dapat tersimpan sebagai memori emosional dan aktif kembali ketika dipicu oleh rangsangan tertentu, termasuk suara atau musik. Kondisi inilah yang membuat anxiety bisa muncul tiba-tiba dan sulit dikendalikan hanya dengan menenangkan pikiran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Mengapa Lagu Bisa Memicu Anxiety?

Secara sederhana, lagu bisa memicu anxiety karena otak menyimpan trauma bukan hanya sebagai cerita, tetapi juga sebagai emosi dan sensasi. Bagian otak bernama amigdala, yang berperan mengenali ancaman, dapat bereaksi cepat ketika lagu tertentu terdengar dan dianggap mirip dengan situasi traumatis di masa lalu, lalu mengaktifkan respons "fight-or-flight".

Akibatnya, tubuh bereaksi seolah bahaya lama terjadi kembali, meski secara logis tidak ada ancaman nyata. Temuan di jurnal Frontiers in Psychology, Frontiers in Psychiatry, dan Neurobiology of Stress menunjukkan bahwa pada individu dengan riwayat trauma atau PTSD, rangsangan suara dan musik memang dapat memicu respons stres serta gejala kecemasan seperti jantung berdebar, napas pendek, hingga rasa panik.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa cara-cara sederhana seperti grounding misalnya mengalihkan perhatian ke napas, sensasi tubuh, atau benda di sekitar dapat membantu meredakan kecemasan saat trigger muncul. Ulasan di Journal of Adolescent Health dan Frontiers in Psychology menjelaskan bahwa teknik ini membantu sistem saraf keluar dari mode siaga berlebihan dan perlahan kembali ke kondisi yang lebih tenang.

Respons ini bukan bentuk drama atau kurang kuat secara mental, melainkan reaksi biologis yang nyata dari sistem saraf terhadap trauma. Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua orang dengan trauma akan memiliki pemicu yang sama, dan respons setiap individu bisa berbeda.

Peran Lingkungan Terdekat dalam Memperparah Trauma

Selain dipicu oleh lagu atau suara tertentu, proses pemulihan trauma juga sangat dipengaruhi oleh respons lingkungan terdekat. Keluarga, pasangan, atau orang-orang di sekitar penyintas memegang peran penting dalam membantu tubuh dan pikiran kembali merasa aman.

Dalam kajian kesehatan mental, kurangnya dukungan emosional, sikap meremehkan perasaan, atau pembelaan terhadap pelaku justru dapat memperparah trauma. Kondisi ini kerap disebut sebagai secondary trauma atau trauma lanjutan, yakni luka psikologis yang muncul bukan dari kejadian awal, melainkan dari respons lingkungan setelahnya. Konsep ini banyak dibahas dalam literatur psikologi klinis, termasuk di jurnal Journal of Traumatic Stress dan Clinical Psychology Review.

Sejumlah penelitian yang dimuat dalam Journal of Anxiety Disorders dan Psychological Trauma: Theory, Research, Practice, and Policy menunjukkan bahwa penyintas trauma yang tidak mendapatkan validasi emosional dari orang terdekat cenderung mengalami gejala kecemasan yang lebih berat dan bertahan lebih lama. Pengabaian, tekanan untuk "melupakan saja", atau paparan trigger yang berulang dapat membuat sistem saraf tetap berada dalam kondisi siaga, sehingga proses pemulihan menjadi lebih sulit.

Padahal, dari sisi kesehatan mental, rasa aman bukan hanya soal menjauh dari pelaku atau peristiwa traumatis, tetapi juga tentang memiliki lingkungan yang menghormati batasan, menghindari pemicu, dan memberi ruang bagi penyintas untuk pulih sesuai ritme mereka sendiri.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Terdekat?

Bagi penyintas trauma, respons orang terdekat sangat berpengaruh pada proses pemulihan. Beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Dengarkan tanpa menghakimi. Tidak semua orang butuh solusi; sering kali mereka hanya ingin perasaannya diakui.
  • Hindari meremehkan atau menyuruh "lupakan saja". Kalimat seperti ini justru bisa memperparah kecemasan.
  • Hormati batasan dan pemicu. Jika ada lagu, kata, atau situasi yang memicu anxiety, usahakan tidak mengulanginya.
  • Berikan rasa aman, bukan tekanan. Pemulihan trauma punya ritme berbeda pada tiap orang.
  • Dorong bantuan profesional dengan empati. Bukan memaksa, tapi menemani dan memberi dukungan saat dibutuhkan.

Bagi penyintas trauma, merasa dipercaya dan dilindungi oleh lingkungan terdekat sering kali menjadi langkah awal yang penting untuk pulih.

Kapan Anxiety Akibat Trigger Perlu Bantuan Profesional?

Tidak semua anxiety akibat trigger membutuhkan penanganan medis. Namun, ada kondisi tertentu yang menjadi tanda bahwa seseorang perlu mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater. Terutama bila reaksi cemas muncul berulang, semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dalam panduan klinis yang banyak dibahas di jurnal Journal of Anxiety Disorders dan The Lancet Psychiatry, seseorang disarankan mencari bantuan profesional bila serangan cemas atau panic attack:

  • sering muncul tanpa bisa diprediksi
  • dipicu hal-hal sederhana seperti suara, lagu, atau situasi sosial
  • disertai gejala fisik berat (sesak napas, jantung berdebar hebat, pusing)
  • membuat seseorang menghindari tempat umum atau menarik diri dari lingkungan

Penelitian di Clinical Psychology Review juga menunjukkan bahwa trauma yang tidak ditangani dengan tepat dapat membuat sistem saraf terus berada dalam kondisi siaga, sehingga anxiety menjadi kronis dan lebih sulit pulih jika dibiarkan terlalu lama.

Pendekatan seperti terapi kognitif-perilaku atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT), terapi berbasis trauma, atau terapi yang berfokus pada regulasi sistem saraf terbukti membantu penyintas mengenali trigger, menurunkan respons stres, dan membangun kembali rasa aman. Intervensi dini dinilai penting agar trauma tidak terus memengaruhi kualitas hidup dalam jangka panjang.

Di tengah ramainya respons publik, aspek ini kerap luput disadari. Viralnya cerita perempuan tersebut di media sosial juga mengingatkan bahwa di balik unggahan yang ramai dibicarakan, ada kondisi mental yang nyata dan bisa sangat rentan. Bagi penyintas trauma, perhatian publik, tebak-tebakan, hingga komentar negatif dapat menjadi beban tambahan yang membuat kecemasan semakin berat dan proses pulih jadi lebih sulit.

Karena itu, sebelum menulis komentar, ada baiknya kita berhenti sejenak dan mengingat bahwa tidak semua luka terlihat. Bagi seseorang yang sedang berjuang, satu kalimat bisa menguatkan, bisa juga menjadi luka. Di ruang digital, komentar yang penuh empati dan kehati-hatian bisa menjadi bentuk dukungan paling sederhana.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video KuTips: Stay Waras dari Berisiknya Berita Buruk di Medsos"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads