Nama Mohan Hazian belakangan mencuri perhatian publik dan trending di media sosial. Ini setelah dirinya diduga melakukan pelecehan seksual ke salah satu talent pemotretannya.
Satu yang menjadi sorotan warganet adalah keberanian perempuan tersebut untuk speak up atau bersuara atas kejadian tersebut. Butuh waktu, namun korban akhirnya memiliki keberanian yang bulat.
Speak Up Tak Sesederhana Itu
Banyak yang mengira bahwa bersuara atas kasus pelecehan adalah sesuatu yang mudah. Korban hanya tinggal cerita saja, padahal itu semua tidak sesederhana itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ ada beberapa lapisan konflik batin yang harus dilalui korban sebelum sampai pada keputusan untuk bercerita.
"Saat kejadian traumatis, otak bisa masuk mode freeze atau dissociation. Akibatnya ingatan terasa terpotong-potong, korban bisa ragu pada memori sendiri, dan sering disalahartikan publik sebagai cerita berubah-ubah," kata dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Kamis (12/2/2026).
"Lalu rasa bersalah dan self blame. Korban sering bertanya pada diri sendiri 'mengapa aku tidak melawan?' atau 'apa aku yang salah?'. Ini bukan logika, tapi efek trauma pada regulasi emosi," lanjutnya.
Tak berhenti sampai di sini, korban juga harus 'melawan' stigma sosial seperti malah disalahkan, dianggap mencari perhatian, hingga risiko rusaknya relasi sosial.
"Karena itu, speak up membutuhkan energi mental yang sangat besar, bukan hanya keberanian, tapi kesiapan menghadapi reaksi publik," tegas dr Lahargo.
"Speak up bagi korban bukan sekadar bicara, itu seperti membuka luka di ruang yang belum tentu aman," sambungnya.
Mengapa Korban Sering Ada di Posisi Rentan?
Dalam dinamika sosial pada kasus pelecehan, korban seringkali berada pada posisi rentan. Ini sedikit banyak akan memengaruhi keberanian mereka dalam bersuara.
Menurut dr Lahargo, ada beberapa alasan mengapa ini bisa terjadi. Pertama adalah ketidakseimbangan 'power'. Pelaku biasanya sering punya status sosial, popularitas, dan pengaruh.
"Otak manusia secara sosial cenderung lebih percaya figur yang terlihat kuat atau terkenal (authority bias). Ini membuat suara korban terasa lebih kecil," katanya.
Rasa trauma juga bisa membuat respons dari korban terasa tidak ideal, sehingga tidak memenuhi ekspektasi publik.
Menurut dr Lahargo, publik sering berharap korban tampil tegas, konsisten, dan emosional secara 'pas'. Padahal trauma bisa membuat korban terlihat datar, bingung, atau justru menunda laporan.
"Ini bukan tanda kebohongan, tapi cara otak bertahan," tegasnya.
Ditambah lagi, masih maraknya budaya 'victim blaming'. Menurut dr Lahargo, masih banyak masyarakat yang akan memberikan pertanyaan awal seperti 'korban pakai pakaian apa?' atau 'kenapa berada di situ?'.
"Padahal fokus seharusnya pada perilaku pelaku, bukan kondisi korban. Korban bukan lemah, mereka sedang membawa beban yang tidak terlihat," tutupnya.
Lihat juga Video: Ada Dugaan Pelecehan di Kasus Kematian Mahasiswi Unima











































