Kemenkes Buka Suara soal Kasus Dokter Koas Pasang CCTV di Toilet RS Wanita

Kemenkes Buka Suara soal Kasus Dokter Koas Pasang CCTV di Toilet RS Wanita

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jumat, 13 Feb 2026 12:13 WIB
Ilustrasi kamera cctv
Foto: Getty Images/Onfokus
Jakarta -

Kementerian Kesehatan RI ikut menyoroti laporan mahasiswa kedokteran di Jambi yang sebelumnya terjerat kasus pornografi. Pelaku terbukti memasang kamera CCTV di toilet wanita RSUD Raden Mattaher. Sebanyak 34 mahasiswi koas di rumah sakit itu menjadi korban perbuatannya.

Insiden tersebut terjadi Desember 2023, tetapi netizen kembali ramai menyoroti kasus ini lantaran yang bersangkutan masih melanjutkan studi profesi dokter di Universitas Islam Sumatera Utara usai menjalani masa hukuman.

Pada 12 Agustus 2024, Agung divonis 1 tahun 3 bulan oleh Hakim Pengadilan Negeri Jambi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AS, salah satu korban mengaku kaget mendapat informasi tersebut. Korban menilai kasus tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap privasi dan etika.

ADVERTISEMENT

Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman menilai laporan tersebut mengkhawatirkan. Pihaknya juga mendorong Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, juga pemerintah daerah.

Hal ini juga demi memastikan pelaku benar-benar mendapat efek jera pasca melakukan pelecehan seksual.

"Ini memprihatinkan, tapi kasusnya yang bersangkutan dalam proses pendidikan, belu menjadi profesi dokter, lokasi kejadian bukan di RS Kemenkes. Dengan lebih tepat menjadi ranahnya Kemdikti dan Pemda," tuturnya saat dihubungi detikcom Jumat (13/2/2025).

Aji menyebut Kemdikti sudah melakukan penelusuran dan pendalaman terkait laporan kasus viral tersebut.


Diberitakan sebelumnya, korban pelaku mengaku khawatir bila yang bersangkutan masih diizinkan untuk menjalani pendidikan kedokteran di kampus lain.

"Kami cukup syok mengetahui pelaku ternyata masih diizinkan melanjutkan pendidikan di kampus swasta. Karena yang kami tahu selama ini pelaku di-drop out sehingga tidak bisa melanjutkan di mana pun," kata AS, Kamis (12/2).

"Kami berharap semakin banyak orang yang tahu kasus ini, dan kami harap pelaku tidak melanjutkan pendidikan dokternya karena kasus ini sudah menyangkut attitude dan keselamatan pasien nantinya. Kami tidak ingin ada korban lain yang juga mengalami hal yang serupa," ujarnya.

Halaman 2 dari 2
(naf/naf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads