James Van Der Beeks Meninggal, Bukti Kanker Kolorektal Mulai Hantui Usia Muda

James Van Der Beeks Meninggal, Bukti Kanker Kolorektal Mulai Hantui Usia Muda

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Jumat, 13 Feb 2026 16:47 WIB
James Van Der Beek
Foto: Instagram @vanderjames
Jakarta -

Aktor ternama James Van Der Beek, yang terkenal lewat serial 'Dawson's Creek', meninggal dunia di usia 48 tahun. Selama ini, ia berjuang melawan kanker kolorektal atau usus besar selama bertahun-tahun.

Hal ini menjadi sorotan karena tren kasus kanker usus besar tengah meningkat pada kelompok usia muda.

Kanker kolorektal merupakan penyakit yang bermula dari polip yang tumbuh lambat di lapisan usus besar atau rektum. Umumnya kondisi ini menyerang orang yang usianya di atas 45 tahun, dan menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker di dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Van Der Beek meninggal kurang dari dua setengah tahun setelah didiagnosis kanker kolorektal stadium 3. Semasa hidupnya, ia aktif mendorong pentingnya skrining sejak usia 45 tahun serta mengingatkan agar tidak mengabaikan gejala sekecil apa pun.

Kematian Van Der Beek menjadi sorotan tajam para ahli medis global. Kasusnya dinilai sebagai fenomena 'puncak gunung es' dari krisis kesehatan, yang mengkhawatirkan peningkatan pesat diagnosis kanker kolorektal pada kelompok dewasa muda.

ADVERTISEMENT

Menurut ahli onkologi medis gastrointenstinal di Stanford Cancer Institute, Dr Shruti Patel, pola peningkatan kasus kanker kolorektal di usia muda sangat mengkhawatirkan.

"Seseorang yang lahir pada usia 1990-an empat kali lebih mungkin mengalami kanker rektum daripada yang lahir pada tahun 1950-an," tuturnya, dikutip dari Forbes.

Menurut data American Cancer Society, meski angka kasus secara keseluruhan di Amerika Serikat menurun berkat kesadaran skrining, tren pada kelompok di bawah 50 tahun justru melonjak 3 persen setiap tahunnya sejak 2013-2022.

Di tahun ini, diperkirakan akan muncul 100 ribu kasus baru kanker usus besar dan 50 ribu kasus kanker rektum.

Penyebab Peningkatan Kanker Kolorektal

"Kita tahu pola-pola tertentu meningkatkan risiko, seperti perilaku kurang gerak dan diet tinggi makanan ultra-olahan," tambah Dr Patel.

Namun, ia telah memperhatikan sesuatu yang aneh, karena banyak pasien mudanya dalam kondisi kesehatan yang baik. Mereka makan dengan baik, berolahraga, dan fokus pada gaya hidup mereka.

Seperti banyak dokter dan peneliti, Dr Patel menduga bahwa beberapa faktor berkontribusi pada peningkatan tersebut. Mulai dari mikrobioma, mikroplastik, dan paparan lingkungan.

"Kita belum tahu pasti, sebagian karena kurangnya kesadaran tentang epidemi ini dan karena mempelajari perubahan biologis dan lingkungan yang kompleks sangat sulit," tegasnya.

Tanda atau Gejala yang Harus Diperhatikan

Gejala yang perlu diperhatikan adalah perdarahan dubur, perubahan kebiasaan buang air besar (seperti frekuensi dan ukuran), anemia yang tidak dapat dijelaskan, sakit perut, dan penurunan berat badan tanpa sebab.

Dr Patel mengungkapkan setiap orang pasti mengetahui kondisi saat tubuhnya dalam keadaan normal. Penting untuk memperhatikan kondisi dasar untuk mendeteksi adanya penyakit.

"Tanda yang paling sering diabaikan adalah pendarahan dubur. Banyak orang menganggapnya berasal dari wasir," beber dia.

Faktor Risiko Kanker Usus Besar

"Salah satu faktor risiko terbesar yang diremehkan orang adalah riwayat keluarga," ujar Dr Patel.

Ia tidak pernah menyangkal bahwa riwayat keluarga bisa berpengaruh sebagai faktor risiko kanker usus besar. Faktor lainnya bisa berupa penyakit radang usus, gaya hidup kurang gerak, merokok, diet rendah serat, hingga konsumsi alkohol yang tinggi.

Halaman 2 dari 2
(sao/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads