Perundungan atau bullying kerap dipahami sebagai peristiwa yang selesai ketika tindakan itu berhenti. Padahal, bagi banyak korban, dampaknya justru baru benar-benar terasa setelah kejadian berlalu. Luka emosional akibat perundungan dapat menetap dalam waktu lama, memengaruhi rasa aman, kepercayaan diri, hubungan sosial, hingga kesehatan mental sehari-hari.
Tidak sedikit korban yang berusaha bertahan dan memulihkan diri sendiri, meski tanpa kepastian apakah luka tersebut akan benar-benar sembuh seiring waktu. Lalu, sejauh mana dampak bullying dapat ditangani secara mandiri, dan kapan korban sebaiknya mulai mencari bantuan profesional?
Luka Bullying Tidak Selalu Hilang Seiring Waktu
Bagi sebagian korban, jarak dari pelaku dan berlalunya waktu memang bisa meredakan rasa sakit akibat bullying. Namun, seperti yang dilaporkan dalam jurnal BMJ Open dan Journal of Adolescent Health, tidak sedikit pula yang mendapati bahwa luka tersebut tetap tertinggal, bahkan muncul dalam bentuk lain seperti kecemasan, gangguan tidur, rasa takut berlebihan, serta kehilangan kepercayaan diri, bahkan setelah paparan bullying berakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luka psikologis akibat perundungan sering kali bekerja secara perlahan dan tidak selalu terlihat dari luar, sehingga kerap dianggap sepele atau diharapkan bisa sembuh dengan sendirinya. Padahal, tanpa pemulihan yang tepat, pengalaman ini dapat terus memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup korban dalam jangka panjang.
Masih Bisa Ditangani Sendiri atau Perlu Bantuan Profesional? Kenali Batasnya
Pada tahap awal, luka psikologis akibat bullying masih dapat dikelola secara mandiri bila keluhan bersifat ringan dan tidak menetap, serta belum mengganggu fungsi sehari-hari. Namun, dalam praktik klinis, kriteria diagnostik gangguan depresi dalam DSM-5 digunakan sebagai salah satu acuan untuk menilai kapan bantuan profesional perlu dipertimbangkan, yakni ketika gejala emosional seperti kecemasan, kesedihan, atau ketakutan berlangsung lebih dari dua minggu, semakin berat, atau mulai mengganggu tidur, konsentrasi, pekerjaan, dan hubungan sosial.
Dalam kondisi tersebut, luka akibat bullying tidak lagi dianjurkan untuk ditangani sendiri, karena stres psikologis yang berkepanjangan dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius bila tidak ditangani secara tepat. Pendekatan profesional bertujuan membantu korban memproses pengalaman traumatis, memulihkan fungsi psikologis, dan mencegah dampak jangka panjang.
Kapan Harus ke Psikolog dan Kapan Perlu Psikiater?
Psikolog dan psikiater sama-sama berperan dalam penanganan kesehatan mental, tetapi memiliki fungsi yang berbeda. Psikolog berfokus pada pendampingan psikologis melalui konseling atau terapi bicara untuk membantu korban memahami emosi, memproses pengalaman traumatis, serta membangun strategi pemulihan. Karena bukan dokter medis, psikolog tidak meresepkan obat. Peran ini dijelaskan secara luas dalam panduan dan publikasi dari American Psychological Association.
Dalam banyak kasus dampak bullying, psikolog kerap menjadi pintu masuk pertama, terutama ketika keluhan masih berupa kecemasan, kesedihan berkepanjangan, rasa takut, atau kesulitan mengelola emosi. Melalui terapi, psikolog membantu korban memulihkan fungsi psikologis sekaligus menilai apakah kondisi tersebut masih dapat ditangani tanpa intervensi medis.
Sementara itu, psikiater adalah dokter spesialis kejiwaan yang memiliki kewenangan melakukan diagnosis medis dan memberikan pengobatan, termasuk obat bila diperlukan. Peran ini dibutuhkan ketika gejala tergolong berat, menetap, atau memburuk, misalnya gangguan tidur parah, kelelahan emosional ekstrem, atau muncul pikiran menyakiti diri. Dalam praktiknya, psikolog dapat merujuk korban ke psikiater bila selama proses pendampingan ditemukan kebutuhan evaluasi medis lebih lanjut.
Penting dipahami bahwa tidak ada urutan yang kaku. Datang ke psikolog lebih dulu bukan berarti kondisi ringan, dan berkonsultasi ke psikiater bukan berarti "sudah parah". Keduanya merupakan bagian dari sistem perawatan kesehatan mental yang saling melengkapi, dengan tujuan utama membantu korban pulih dan kembali berfungsi dengan aman.
Mencari Bantuan Kesehatan Mental: Opsi yang Bisa Dicoba Sejak Awal
Berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan RI, layanan kesehatan jiwa di puskesmas dilakukan secara bertahap, dimulai dari skrining dan penilaian awal. Jika keluhan dinilai ringan hingga sedang, puskesmas dapat melakukan penanganan awal. Sementara itu, kasus yang lebih berat atau tidak membaik akan dirujuk ke layanan lanjutan, seperti psikolog klinis atau psikiater, sesuai kebutuhan.
1. Datang ke puskesmas sebagai pintu pertama
Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama dan titik awal layanan kesehatan mental. Di sini, korban dapat:
- melakukan skrining kesehatan mental, yang pada prinsipnya dapat diakses tanpa biaya
- melakukan konsultasi awal dengan tenaga kesehatan
- memperoleh rujukan bila diperlukan
Tidak semua puskesmas memiliki psikolog klinis, namun puskesmas tetap wajib melakukan penilaian awal dan rujukan sesuai pedoman.
2. Gunakan BPJS Kesehatan bila terdaftar
Bagi peserta BPJS Kesehatan, layanan kesehatan mental dapat diakses melalui sistem rujukan berjenjang, yaitu:
- dimulai dari puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama
- bila diperlukan, dirujuk ke layanan lanjutan (psikolog atau psikiater)
- biaya ditanggung sesuai ketentuan BPJS
Korban tidak perlu langsung mencari layanan privat untuk memulai pemulihan.
3. Ikuti rujukan ke layanan lanjutan bila diperlukan
Jika hasil skrining menunjukkan kebutuhan pendampingan lebih lanjut:
- psikolog menangani konseling atau terapi psikologis
- psikiater menangani evaluasi medis dan pengobatan bila perlu
Alur ini merupakan bagian dari kebijakan pelayanan kesehatan jiwa yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.
4. Manfaatkan layanan kesehatan mental di kampus atau instansi
Bagi mahasiswa atau pekerja, beberapa institusi menyediakan:
- layanan konseling kampus
- unit layanan psikologis internal
- rujukan resmi ke fasilitas kesehatan
Layanan ini bisa menjadi langkah awal tanpa biaya tambahan.
5. Cari program kesehatan jiwa daerah atau komunitas
Sejumlah daerah menyediakan:
- layanan dukungan psikososial berbasis komunitas
- program kesehatan jiwa di dinas kesehatan setempat
Informasi biasanya tersedia melalui puskesmas atau kanal resmi pemerintah daerah.
6. Datang segera ke fasilitas kesehatan jika kondisi memburuk
Korban disarankan segera mencari pertolongan medis, tanpa menunggu rujukan lanjutan, bila muncul:
- pikiran menyakiti diri
- keputusasaan berat
- gangguan fungsi sehari-hari yang signifikan
Bagi korban, luka akibat bullying sering kali tidak hanya tentang apa yang terjadi, tetapi tentang bagaimana pengalaman itu terus hidup di dalam diri. Merasa lelah, ragu, atau takut untuk mencari bantuan adalah hal yang manusiawi. Namun, pemulihan tidak harus menunggu sampai semuanya terasa "cukup parah". Setiap langkah kecil untuk merawat diri entah itu berbagi cerita, mencari pendampingan, atau mendatangi layanan kesehatan adalah bentuk kepedulian pada diri sendiri. Luka ini nyata, tapi harapan untuk pulih juga nyata, dan tidak harus ditempuh sendirian.
Simak Video "Video KuTips: Stay Waras dari Berisiknya Berita Buruk di Medsos"
[Gambas:Video 20detik]
(fti/up)











































