Kronologi Perawat India Meninggal usai Terinfeksi Virus Nipah, Sempat Kritis

Kronologi Perawat India Meninggal usai Terinfeksi Virus Nipah, Sempat Kritis

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Senin, 16 Feb 2026 11:03 WIB
Residents fix a sign reading Nipah containment zone on a barricade, put up to block a road after the authorities declared the area a containment zone, to prevent the spread of Nipah virus in Ayanchery village in Kozhikode district, Kerala, India, S
Foto: REUTERS/Stringer
Jakarta -

Seorang perawat muda di India meninggal dunia setelah tertular virus Nipah. Wanita berusia 25 tahun itu merupakan salah satu dari dua kasus yang dikonfirmasi di India Timur.

Diketahui, ia terinfeksi virus yang ditularkan kelelawar saat dirawat di rumah sakit.

"Wanita itu yang dalam kondisi kritis, meninggal karena serangan jantung," beber sekretaris kesehatan setempat, Narayan Swaroop Nigam, dikutip dari The Sun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peristiwa ini terjadi beberapa hari setelah seorang wanita di Bangladesh juga meninggal karena penyakit yang sama.

ADVERTISEMENT

Mengalami Gagal Organ Multipel

Perawat tersebut sudah menggunakan alat bantu pernapasan sejak awal Januari. Ia kemudian meninggal setelah mengalami gagal organ multipel.

Multiple Organ Failure (MOF) atau Multiple organ dysfunction syndrome (MODS) merupakan penyakit akut dan serius, di mana dua atau lebih sistem organ berhenti berfungsi. Kondisi ini dapat mempersulit tubuh untuk terus bekerja tanpa bantuan alat bantu hidup.

Ia dan seorang perawat pria berusia 27 tahun dari rumah sakit yang sama di Bengal Barat pertama kali mengalami demam pada Desember 2025. Gejala mereka cepat memburuk menjadi kejang, sakit kepala parah, dan perubahan kesadaran sebelum dirawat di unit perawatan intensif.

Beruntung, sang perawat pria berhasil pulih dan sudah diperbolehkan pulang.

Virus yang Lebih Mematikan dari COVID-19

Virus Nipah memiliki tingkat kematian 40-75 persen, yang jauh lebih tinggi dibanding COVID-19. Meski begitu, kecil kemungkinannya bisa memicu keadaan darurat global.

Ahli penyakit menular dari East Anglia University, Profesor Paul Hunter, mengatakan meski virus Nipah adalah infeksi yang serius, kemungkinan besar tidak akan menimbulkan risiko penyebaran global yang signifikan karena risiko penularan dari orang ke orang rendah.

"R0 (jumlah orang yang akan tertular virus dari satu orang yang terinfeksi) kurang dari 1,0. Tetapi, kita tidak boleh lengah karena beberapa virus dapat bermutasi, sehingga meningkatkan daya infeksi," jelas dia.

"Selain itu, masa inkubasi yang panjang membuat deteksi di perbatasan sangat sulit."

Halaman 2 dari 2
(sao/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads