Sama-sama Picu Nyeri Dada, Ini Beda Gejala Aslam Kambuh Vs Serangan Jantung

Puasa Sehat Penuh Berkah

Sama-sama Picu Nyeri Dada, Ini Beda Gejala Aslam Kambuh Vs Serangan Jantung

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Kamis, 19 Feb 2026 15:02 WIB
Chest pain illness causing heart attack and stroke, cardiac disease risk in young woman, atrial fibrillation awareness month, heartburn or cardiovascular heart health illness problem
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Chinnapong)
Jakarta -

Keluhan nyeri dada sering kali membuat pengidapnya merasa takut atau parno. Kondisi ini kerap menimbulkan tanda tanya besar, apakah nyeri tersebut bersumber dari asam lambung yang meningkat atau justru gejala serangan jantung yang mematikan?

Meskipun lokasinya sama-sama di area dada, spesialis jantung dan pembuluh darah dr Yislam Aljaidi, SpJP-FIHA menjelaskan bahwa sensasi nyeri dada yang dirasakan sebenarnya memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Ciri Khas Nyeri Dada Serangan Jantung

Menurut dr Yislam, gejala serangan jantung yang paling khas adalah sensasi nyeri yang bukan seperti ditusuk atau disayat. Rasanya lebih menyerupai tekanan yang kuat dari benda berat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi tumpul sensasinya dan rasanya bisa tembus ke punggung, bisa menjalar ke leher. Jadi kayak kok berat leher, kecekik, atau sampai bahu kiri," ujar dr Yislam saat ditemui di Cibubur, Rabu (11/2/2026).

Selain nyeri tekan yang tumpul, serangan jantung sering disertai dengan gejala sistemik lainnya.

ADVERTISEMENT

"Bisa juga berkeringat dingin. Badannya kayak panas dingin, atau sampai mual muntah, sampai sesak hebat atau henti jantung. Cuma ya memang kita nggak bisa kasih tahu itu serangan jantung, hipoksia, atau GERD," lanjutnya.

Sensasi Panas pada Asam Lambung (GERD)

Berbeda dengan jantung, dr Yislam Aljaidi menjelaskan bahwa masalah pada lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) memberikan sensasi yang berbeda. Pasien biasanya merasakan rasa panas yang menjalar hingga ke area tenggorokan (heartburn).

Ia menegaskan bahwa meskipun gejalanya sekilas mirip, mekanisme kedua penyakit ini tidak saling berhubungan secara langsung. Peningkatan asam lambung tidak akan membuat pembuluh darah jantung tersumbat.

"Tapi kan dari asam lambung yang meningkat itu nggak bikin pembuluh darahnya jantung tertutup, karena mekanismenya beda," tambah dr Yislam Aljaidi.

Lebih lanjut, dr Yislam Aljaidi mengungkapkan bahwa penyempitan pembuluh darah jantung biasanya terjadi karena hilangnya elastisitas pembuluh darah. Hal ini sering dipicu oleh faktor usia, hipertensi, hingga diabetes.

Kondisi tersebut diperparah oleh penumpukan lemak jahat dalam tubuh. "Lemak jahat LDL nempel di pembuluh darah, yang lama-lama sempit menutup," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(sao/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads