Ilmuwan Ungkap Penyebab Efek Langka Pembekuan Darah terkait Vaksin COVID-19

Ilmuwan Ungkap Penyebab Efek Langka Pembekuan Darah terkait Vaksin COVID-19

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kamis, 19 Feb 2026 19:11 WIB
YOGYAKARTA, INDONESIA - JANUARY 13: A health worker prepares a dose of the AstraZeneca COVID-19 booster vaccine during the booster vaccination program on January 13, 2022 in Yogyakarta, Indonesia. While Southeast Asias vaccination programs have gath
Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
Jakarta -

Setelah bertahun-tahun diteliti, para ilmuwan akhirnya berhasil mengungkap misteri efek samping langka yang sempat muncul pada sebagian penerima vaksin COVID-19 berbasis adenovirus seperti besutan University of Oxford/AstraZeneca dan Johnson & Johnson.

Temuan ini dinilai penting karena bisa membantu pengembangan vaksin berbasis teknologi serupa agar lebih aman di masa depan.

Di awal pandemi, selain vaksin mRNA seperti Pfizer dan Moderna, vaksin berbasis adenovirus menjadi pasokan vaksinasi global terkait COVID-19.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, tak lama setelah program vaksinasi massal berjalan, muncul laporan efek samping sangat langka bernama vaccine-induced immune thrombocytopenia and thrombosis (VITT).

Kondisi ini dinilai serius dan berpotensi mengancam nyawa karena menyebabkan pembekuan darah (trombosis) yang disertai penurunan drastis trombosit. Awalnya, penyebabnya membingungkan para dokter.

ADVERTISEMENT

Belakangan diketahui, VITT dipicu oleh autoantibodi tak biasa terhadap protein tubuh bernama platelet factor 4 (PF4).

Tim ilmuwan internasional yang dipimpin peneliti dari Flinders University akhirnya menyelesaikan rangkaian penelitian untuk memahami bagaimana autoantibodi PF4 bisa memicu VITT.

Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal medis New England Journal of Medicine. Profesor Tom Gordon, salah satu penulis studi, menyebut perjalanan riset ini sebagai proses panjang dan kolaboratif lintas negara.

Pada 2022, tim menemukan adanya faktor genetik tertentu yang membuat sebagian orang lebih rentan membentuk autoantibodi PF4.

Kemudian pada 2023, penelitian lanjutan menunjukkan bahwa risiko serupa juga bisa muncul setelah seseorang terpapar adenovirus alami penyebab flu biasa.

Temuan ini mengarah pada satu kesimpulan penting, kemungkinan besar yang memicu reaksi tersebut adalah adenovirus itu sendiri, bukan komponen lain dalam vaksin.

Tubuh 'Salah Kenal' Protein

Dikutip dari IFL Science, dalam tahap terakhir penelitian, tim menggunakan analisis molekuler canggih dan menemukan penyebab pastinya.

Ternyata, pada sebagian kecil orang, sistem imun keliru mengenali protein adenovirus sebagai protein PF4 milik tubuh sendiri. Kekeliruan ini mengaktifkan autoantibodi dan memicu reaksi pembekuan darah berbahaya.

Dr Jing Jing Wang menjelaskan temuan ini membuka peluang untuk memodifikasi atau menghilangkan protein adenovirus tertentu dalam desain vaksin mendatang. "Dengan memodifikasi atau menghapus protein adenovirus spesifik ini, vaksin masa depan dapat menghindari reaksi yang sangat langka ini sambil tetap memberikan perlindungan kuat terhadap penyakit," ujarnya.

Kasus VITT sebelumnya mendorong perubahan kebijakan distribusi vaksin di berbagai negara. Kelompok berisiko tinggi dialihkan ke jenis vaksin lain demi keamanan.

Profesor James McCluskey menyebut penelitian ini sebagai penyelidikan molekuler yang brilian karena berhasil mengurai dasar genetik dan struktural bagaimana respons imun normal bisa berubah menjadi autoimun yang patologis.

Meski VITT tergolong sangat jarang, temuan ini dinilai penting agar teknologi vaksin adenovirus tetap bisa digunakan dengan risiko yang lebih minimal.

Di tengah dominasi vaksin mRNA saat ini, hasil riset memastikan inovasi vaksin berbasis adenovirus tetap punya masa depan yang lebih aman dan terkontrol.

Halaman 2 dari 2
(naf/naf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads