Mahasiswa UIN Suska Riau Bacok Teman usai Cinta Ditolak, Mungkinkah Erotomania?

Mahasiswa UIN Suska Riau Bacok Teman usai Cinta Ditolak, Mungkinkah Erotomania?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Jumat, 27 Feb 2026 16:02 WIB
Seorang mahasiswi UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau menjadi korban pembacokan oleh seorang pria.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Aksi kekerasan tragis kembali terjadi di lingkungan kampus. Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan berita seorang mahasiswa di UIN Suska Riau yang nekat membacok mahasiswi sesama rekan kampusnya. Motif di baliknya diduga sakit hati karena cinta ditolak.

"Motif sementara ini karena cinta ditolak ya. Jadi pelaku sengaja datang dari rumah mau menarget korban, makanya bawa kampak dan parang. Tapi baru kampak yang pelaku gunakan," kata Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru AKP Anggi Rian, dilansir detikSumut, Jumat (27/2/2026).

Terkait kasus tersebut, mungkinkah sekadar patah hati biasa atau ada indikasi gangguan jia erotomania?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Erotomania?

Mengutip dari dari Medical News Today, erotomania adalah gangguan delusi ketika seseorang memiliki keyakinan kuat bahwa orang lain, biasanya seseorang dengan status sosial lebih tinggi atau orang yang mereka kagumi, sedang jatuh cinta kepadanya.

Mereka yang mengidap erotomania benar-benar percaya bahwa ada ikatan spiritual atau cinta yang sangat dalam antara mereka dan targetnya, meskipun pada kenyataannya mereka hampir tidak saling mengenal atau bahkan sang target telah secara tegas menyatakan tidak tertarik.

ADVERTISEMENT

Dalam literatur psikologi, Erotomania sering disebut sebagai De Clérambault's Syndrome. Berdasarkan jurnal-jurnal kedokteran terkait, penderita gangguan ini menunjukkan beberapa pola perilaku berbahaya:

  • Delusi Persisten: Keyakinan tetap bahwa orang lain mencintai mereka, meskipun ada bukti nyata yang membantahnya (seperti penolakan atau laporan polisi).
  • Membaca 'Pesan Tersembunyi': Mereka menganggap tindakan biasa (seperti senyuman sopan atau lirikan sekilas) sebagai sinyal cinta rahasia.
  • Perilaku Obsesif: Sering kali disertai dengan upaya terus-menerus untuk menghubungi target melalui surat, telepon, media sosial, hingga penguntitan (stalking).

Mengutip studi dalam jurnal Psychopathology, ketika delusi ini berbenturan dengan realita (penolakan keras), mereka bisa mengalami frustrasi ekstrem yang dapat memicu tindakan kekerasan atau upaya mencelakai target sebagai bentuk kepemilikan.

Batas Tipis Antara Cinta dan Delusi

Dalam kasus kekerasan akibat cinta ditolak, pelaku sering kali merasa bahwa korban sebenarnya mencintai mereka namun 'terhalang' oleh sesuatu, atau mereka merasa korban adalah milik mereka sepenuhnya.

Erotomania berbeda dengan obsesi cinta biasa. Pada obsesi biasa, seseorang masih menyadari realita bahwa mereka ditolak. Namun pada erotomania, penolakan justru dianggap sebagai "ujian" atau "cara korban menyembunyikan cintanya". Hal inilah yang membuat perilaku pelaku menjadi sangat tidak terduga dan berbahaya.

Tetap Butuh Pemeriksaan Ahli

Meskipun pola perilaku dalam kasus di UIN Suska Riau menunjukkan adanya obsesi yang tidak sehat, pemeriksaan kejiwaan butuh dilakukan. Penting untuk dipahami bahwa erotomania adalah diagnosis medis yang kompleks.

Untuk menentukan apakah seseorang benar-benar menderita delusi erotomanik atau gangguan kepribadian lainnya, tetap diperlukan pemeriksaan kejiwaan mendalam oleh psikiater atau psikolog klinis melalui evaluasi formal.

Halaman 2 dari 2
(kna/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads