Berkaca dari Pembacokan di UIN Suska Riau, Kenapa Sakit Hati Bikin Senekat Itu?

Berkaca dari Pembacokan di UIN Suska Riau, Kenapa Sakit Hati Bikin Senekat Itu?

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Sabtu, 28 Feb 2026 10:20 WIB
Barang bukti yang dipakai pelaku untuk membacok mahasiswi UIN Suska Riau. (Raja Adil Siregar/detikSumut)
Foto: Barang bukti yang dipakai pelaku untuk membacok mahasiswi UIN Suska Riau. (Raja Adil Siregar/detikSumut)
Jakarta -

Suasana di Universitas Islam Negeri Sultan Syarief Kasim (UIN Suska) Pekanbaru, Riau pada Kamis pagi mendadak mencekam setelah seorang mahasiswa tiba-tiba membacok temannya yang tengah menunggu sidang skripsi.

Pelaku diketahui bernama Raihan Mufazzar (21), sedangkan korban adalah FAP (23). Menurut kepolisian, motif Raihan melakukan aksi sadisnya lantaran sakit hati karena cinta bertepuk sebelah tangan.

"Antara korban dan pelaku ini mereka saling mengenal. Jadi pelaku ini dengan sengaja sudah punya niat mau menganiaya korban," ujar Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru AKP Anggi Rian, dikutip dari detikSumut, Sabtu (28/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sakit Hati Tak Selalu Sederhana

Rasa sakit hati yang bisa juga dibumbui dendan adalah respons emosional terhadap pengalaman yang dianggap menyakitkan, menyinggung harga diri, mengancam, atau merusak hubungan.

Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ secara psikologis emosi yang dirasakan ini bukan hanya reaksi sesaat, tetapi merupakan akumulasi berbagai pengalaman subjektif.

ADVERTISEMENT

"Ketika seseorang merasa sangat terluka atau diperlakukan tidak adil, reaksi emosi seperti marah, frustrasi, dan perasaan ingin 'mengembalikan keseimbangan' bisa muncul," kata dr Lahargo kepada detikcom, Sabtu (28/2/2026).

"Rasa ini bisa menjadi sangat kuat, sehingga pikirannya terus-menerus mengulang kejadian tersebut (ruminasi), ini kemudian menyebabkan hubungan emosionalnya dengan peristiwa negatif itu justru diperkuat, bukan dilepaskan," sambungnya.

Pentingnya Manajemen Emosi

Di sinilah titik krusial dari seseorang yang mengalami sakit hati hingga dendam apapun alasannya. Manajemen emosi yang baik dapat membantu mereka dalam menentukan tindakan.

"Dalam beberapa kasus, kombinasi marah yang kuat dan kurangnya keterampilan regulasi emosi dapat membuat seseorang beralih ke perilaku ekstrem untuk mengobati atau menetralkan perasaan tersebut," kata dr Lahargo.

"Misalnya melakukan kekerasan terhadap orang yang dianggap telah menghancurkan harga dirinya. Ini adalah pola yang sering dijelaskan dalam psikologi sebagai upaya maladaptif untuk meredakan emosi negatif," sambungnya.

Saat seseorang memiliki kemampuan mengontrol emosi, lanjut dr Lahargo, hal ini dapat membantu mereka memunculkan respons adaptif, yakni mengubah pengalaman sakit hati menjadi 'bahan bakar' untuk perubahan diri.

"Misalnya, putus cinta diolah menjadi motivasi untuk memperbaiki diri: menjaga kesehatan (gym), fokus pada pendidikan atau karier, atau memperbaiki kemampuan sosial," tutupnya.

Halaman 2 dari 2
(dpy/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads