Kemenkes Soroti Masalah Kejiwaan di Balik Pembacokan Mahasiswa UIN gegara Sakit Hati

Kemenkes Soroti Masalah Kejiwaan di Balik Pembacokan Mahasiswa UIN gegara Sakit Hati

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Sabtu, 28 Feb 2026 16:32 WIB
Seorang mahasiswi UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau menjadi korban pembacokan oleh seorang pria.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Insiden pembacokan yang terjadi di lingkungan Universitas Islam Negeri Sultan Syarief Kasim (UIN Suska) Pekanbaru, Riau, memicu perhatian serius dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Peristiwa itu terjadi Kamis pagi, saat seorang mahasiswa bernama Raihan Mufazzar (21) membacok rekannya, FAP (23), yang tengah menunggu sidang skripsi. Polisi menyebut motif pelaku karena sakit hati akibat cinta bertepuk sebelah tangan.

"Antara korban dan pelaku ini mereka saling mengenal. Jadi pelaku ini dengan sengaja sudah punya niat mau menganiaya korban," ujar Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru AKP Anggi Rian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menanggapi kasus tersebut, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi menegaskan fenomena peningkatan perilaku berisiko di kalangan anak muda harus dipandang sebagai persoalan kesehatan masyarakat.

"Saya menegaskan bahwa fenomena peningkatan perilaku berisiko di kalangan anak muda perlu dipandang sebagai masalah kesehatan masyarakat yang berkaitan erat dengan kondisi kesehatan mental, lingkungan sosial, dan akses layanan," ujarnya kepada detikcom Sabtu (28/2/2026).

ADVERTISEMENT

Bisa Berkaitan dengan Gangguan Psikotik

Imran menjelaskan, dalam beberapa kasus ekstrem yang dipicu konflik interpersonal seperti penolakan cinta, terdapat kemungkinan kerentanan gangguan mental yang mendasari.

Salah satu kondisi yang kerap dibahas dalam literatur psikiatri adalah erotomania, yakni delusi tetap bahwa seseorang sering kali berstatus lebih tinggi atau figur tertentu jatuh cinta pada penderitanya, meski bukti menunjukkan sebaliknya. Kondisi ini masuk dalam spektrum gangguan delusi atau psikotik, bisa berdiri sendiri atau muncul bersama skizofrenia maupun gangguan mood dengan gejala psikotik.

Namun ia menekankan, tidak semua kasus kekerasan terkait langsung dengan satu diagnosis tertentu. Faktor penyebabnya bersifat multifaktorial.

"Kami melihat adanya interaksi antara kerentanan individu, seperti riwayat gangguan psikotik atau mood dan penyalahgunaan zat, dengan faktor pemicu seperti putus hubungan, tekanan akademik, isolasi sosial, serta keterbatasan akses layanan," jelasnya.

Menurut Imran, kasus-kasus yang mencuat di ruang publik, termasuk di lingkungan kampus, menjadi alarm penting bahwa dukungan kesehatan mental bagi remaja dan mahasiswa masih perlu diperkuat.

Perlu Deteksi Dini di Kampus

Imran menilai, data survei nasional menunjukkan beban masalah kesehatan mental pada remaja cukup signifikan dan membutuhkan perhatian sistemik.

Karena itu, ia merekomendasikan penguatan deteksi dini di layanan primer dan institusi pendidikan, integrasi layanan kesehatan mental di kampus dan puskesmas, serta program pencegahan berbasis sekolah dan komunitas.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Kemenkes RI Update Pembangunan RSUD di Wilayah Terpencil"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads