Ramai Pria Bacok Mahasiswa UIN Suska Riau, Psikiater Soroti Pemahaman Gen Z soal Hubungan

Ramai Pria Bacok Mahasiswa UIN Suska Riau, Psikiater Soroti Pemahaman Gen Z soal Hubungan

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Minggu, 01 Mar 2026 09:00 WIB
Seorang mahasiswi UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau menjadi korban pembacokan oleh seorang pria.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Belakangan ramai kasus seorang pria bernama Raihan Mufazzar (21) yang membacok mahasiswi UIN Suska Riau, Faradilla Ayu Pramesti (23). Polisi menyebut motif di balik penganiayaan tersebut akibat cintanya ditolak.

"Antara korban dan pelaku ini mereka saling mengenal. Jadi pelaku ini dengan sengaja sudah punya niat mau menganiaya korban," ujar Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru AKP Anggi Rian, dilansir detikSumut, Jumat (27/2/2026).

Dari hasil pemeriksaan di Mapolsek Bina Widya terungkap aksi itu dilakukan karena asmara. Pelaku tak terima cintanya ditolak korban.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Motif sementara ini karena cinta ditolak ya. Jadi pelaku sengaja datang dari rumah mau menarget korban, makanya bawa kampak dan parang. Tapi baru kampak yang pelaku gunakan," kata Anggi Rian.

ADVERTISEMENT

Kurangnya Pemahaman Gen Z soal Hubungan

Berkaca dari kasus tersebut, dokter spesialis kesehatan jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menyoroti kurangnya pemahaman Gen Z soal relasi atau hubungan. Hubungan toksik yang berujung pada terjadinya kekerasan, bahkan cedera dan kematian sering terjadi pada generasi muda.

Ia mengatakan kurangnya panduan dan role model menyebabkan generasi Z saat ini kehilangan arah tentang bagaimana menjalin hubungan yang sehat.

"Generasi Z adalah generasi yang tumbuh di era digital, di mana relasi banyak dibangun lewat DM, story, dan notifikasi. Kedekatam bisa terasa instan, tapi ke dalam relasi, emosional bounding belum tentu terbangun," ucap dr Lahargo dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (1/3/2026).

"Di sisi lain, tekanan sosial, fear of missing out (FOMO), dan budaya validasi online membuat banyak anak muda sulit membedakan mana hubungan yang sehat dan mana yang melelahkan secara emosional. Tidak jarang banyak anak muda jaman sekarang yang terikat dengan hubungan yg toksik dengan pasangannya," sambungnya.

Ada beberapa tantangan khas gen Z dalam menjalani hubungan, seperti:

  • Validasi digital, di mana seseorang merasa hubungan harus terlihat 'sempurna' di media sosial.
  • Overthinking karena chat, seperti salah tafsir tanda baca, last seen, atau slow response, centang 2 tapi tidak dibalas.
  • Fear of abandonment, perasaan takut ditinggal sehingga rela mengorbankan nilai hidup yang dimiliki.
  • Paparan toxic relationship online, yang membuat seseorang menganggap drama sebagai tanda cinta.
  • Gen Z sangat ekspresif secara emosional, tetapi sering belum mendapat keterampilan regulasi emosi yang cukup.

Halaman 2 dari 2
(sao/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads