300 Ribu Anak RI Depresi hingga Cemas, Lebih Tinggi 5 Kali Lipat dari Dewasa

300 Ribu Anak RI Depresi hingga Cemas, Lebih Tinggi 5 Kali Lipat dari Dewasa

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Senin, 09 Mar 2026 15:35 WIB
A woman who is terribly tired and depressed.
Depressed, exhausted.
Sadness, resignation, weakness, loneliness, anxiety.
Foto: Getty Images/iStockphoto/Kayoko Hayashi
Jakarta -

CATATAN: Depresi bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh atau fisik. Jika gejala depresi semakin parah, segeralah menghubungi dan berdiskusi dengan profesional seperti psikolog, psikiater, maupun langsung mendatangai klinik kesehatan jiwa. Layanan konsultasi kesehatan jiwa juga disediakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) di laman resminya yaitu www.pdskji.org. Melalui laman organisasi profesi tersebut disediakan pemeriksaan secara mandiri untuk mengetahui kondisi kesehatan jiwa seseorang.

Hasil cek kesehatan gratis (CKG) menunjukkan banyak anak mengalami masalah kesehatan mental. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut sedikitnya tiga ratus ribu anak menghadapi gejala depresi hingga cemas.

Berdasarkan data yang dihimpun, tercatat 363.326 anak atau sekitar 4,8 persen memiliki gejala depresi dan 338.316 anak atau 4,4 persen lainnya menunjukkan gejala kecemasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Budi, angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lain.

"Angka ini kurang lebih lima kali lipat lebih besar dibandingkan kelompok usia dewasa dan lansia," ujarnya dalam konferensi pers Senin (9/3/2026).

ADVERTISEMENT

Usia Remaja Paling Rentan

Menkes juga merinci, kelompok usia 11 hingga 17 tahun menjadi yang paling tinggi mengalami masalah kesehatan mental. Pada kelompok ini pula ditemukan banyak kasus yang berkaitan dengan pikiran untuk mengakhiri hidup.

Trennya dinilai mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir. Persentase siswa yang pernah berpikir untuk mengakhiri hidup meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023, atau naik sekitar 1,6 kali lipat.

Kenaikan lebih tajam terlihat pada persentase siswa yang pernah mencoba mengakhiri hidup. Angkanya meningkat dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023, atau sekitar 2,7 kali lipat lebih tinggi.

Menkes menilai temuan ini menjadi alarm bagi semua pihak bahwa kesehatan mental anak dan remaja perlu mendapat perhatian lebih besar. Pemeriksaan kesehatan gratis diharapkan dapat membantu mendeteksi lebih dini berbagai masalah kesehatan, termasuk kesehatan mental pada anak.

Halaman 2 dari 2
(naf/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads