Soroti 4 Kasus Anak Bunuh Diri di 2026, Menkes Ungkap Pemicu Terbanyak

Soroti 4 Kasus Anak Bunuh Diri di 2026, Menkes Ungkap Pemicu Terbanyak

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Senin, 09 Mar 2026 18:35 WIB
Tired woman lying on laptop, desperate of overwork, exhausted night shift
Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion
Jakarta -

CATATAN: Depresi dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh atau fisik. Jika gejala depresi semakin parah, segeralah menghubungi dan berdiskusi dengan profesional seperti psikolog, psikiater, maupun langsung mendatangi klinik kesehatan jiwa. Konsultasi online secara gratis juga bisa diakses melalui laman Healing119.id.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sepanjang 2026 sudah ada empat anak yang meninggal bunuh diri di Indonesia. Kasus tersebut terjadi di sejumlah daerah dengan latar belakang keluarga berbeda.

"Dalam tahun 2026 ini sudah ada 4 orang yang meninggal. Empat anak yang meninggal itu ada di NTT, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur," kata Menkes dalam konferensi pers Senin (9/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut usia anak-anak tersebut berkisar 11 hingga 14 tahun. Menurutnya, kasus bunuh diri pada anak tidak hanya terjadi pada keluarga kurang mampu, tetapi juga ditemukan pada keluarga dengan kondisi ekonomi menengah hingga atas.

"Dan tidak hanya dari golongan miskin seperti yang di Ngada. Ada juga yang golongan menengah. Jadi bahwa ini hanya terjadi di keluarga tidak mampu, kenyataannya tidak demikian. Ini juga terjadi di keluarga yang kelas menengah ke atas," sorot Menkes.

ADVERTISEMENT

115 Anak Bunuh Diri dalam Tiga Tahun

Mengutip data Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Menkes menyinggung 115 anak dilaporkan bunuh diri pada periode 2023 hingga 2025. Mayoritas kasus terjadi pada anak usia 11 hingga 17 tahun.

Menurutnya, banyak orang mengira penyebab utama bunuh diri berasal dari kondisi psikologis anak. Namun, data menunjukkan faktor terbesar justru berasal dari lingkungan keluarga.

"Penyebab yang nomor satu, surprisingly bukan dari psikologi anaknya, tapi dari keluarganya. Jadi kalau keluarganya konflik, kemudian ada masalah di pola pengasuhan, itu menjadi salah satu penyebab yang paling tinggi," jelas Menkes.

Selain faktor keluarga, lingkungan sosial juga berperan besar dalam memicu masalah kesehatan mental pada anak.

Sementara faktor kedua terbesar berasal dari perundungan (bullying) serta tekanan akademik di lingkungan sekolah.

"Perundungan itu dari lingkungan teman-temannya, tekanan akademik dari lingkungan pembelajarannya," katanya.

Ia menilai faktor lingkungan ini sangat berpengaruh karena anak menghabiskan banyak waktunya di sekolah.

"Kita lihat bahwa faktor kedua yang paling besar adalah dari lingkungan mereka, baik itu teman-temannya maupun akademiknya," ujarnya.

"Kalau kita bisa menjaga pola asuh yang bagus di keluarga, kemudian menjaga pola sosial dan pendidikan yang baik di sekolah, itu bisa menurunkan secara drastis penyebab masalah kesehatan jiwa," jelasnya.

Selain orang tua, guru juga diminta Menkes lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa, bukan hanya fokus pada nilai akademik.

"Guru harus memperhatikan bukan hanya nilai ujian saja, tapi juga perilaku anak. Kalau sudah ada ciri-ciri seperti mulai diam, tidak mau bermain dengan teman-temannya, itu bisa jadi tanda ada masalah seperti perundungan," kata Menkes.

Halaman 2 dari 2
(naf/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads