Selama bulan Ramadan, beberapa pasangan suami istri mungkin mencuri-curi waktu untuk bercinta setelah sahur dengan quickie sex atau 'seks kilat'. Sebenarnya tidak masalah, tetapi ada yang perlu diperhatikan.
Pakar seks dr Boyke Dian Nugraha mengungkapkan sebaiknya 'seks kilat' hanya dijadikan variasi bercinta saja, alias tidak menjadi kebiasaan rutin.
"Boleh sesekali, sebagai tambahan saja. Intinya sih tetap harus dilakukan dengan pola-pola yang lebih romantis, menggunakan tempat-tempat tertentu, di kamar, di ruang tengah, itu akan lebih menyenangkan dan berkesan," saran dr Boyke, saat dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Boyke menyarankan menyiapkan waktu tertentu di bulan Ramadan untuk berhubungan intim. Bisa dilakukan di momen sebelum sahur, saat kadar testosteron pria juga tengah tinggi, misalnya di pukul 2-3 pagi.
"Jadi tetap harus ada foreplay, orgasme, dan afterplay harus tetap dilakukan," tambahnya.
dr Boyke. (Foto: Khairunnisa Adinda Kinanti/detikHealth) |
Benarkah Quickie Sex Berisiko?
Menurut dr Boyke, ada kekhawatiran quicky sex juga tidak cocok untuk mereka dengan kondisi riwayat penyakit tertentu, salah satunya masalah lambung. Namun, ia menekankan tidak ada efek berarti dari seks kilat semacam ini, termasuk untuk pengidap Gastro Esophageal Reflux Disease atau GERD.
"Bagi mereka-mereka yang mengidap penyakit GERD, lambung, seks itu malah bisa menyembuhkan, yang nyeri-nyeri sendi juga bisa, kemudian penyakit-penyakit seperti misalnya pusing, itu bisa disembuhkan, karena ketika seorang wanita orgasme, atau pria ejakulasi, yang dikeluarkan adalah hormon-hormon endorphin," pungkasnya.
(sao/naf)












































