Anak susah makan atau pilih-pilih menu makanan menjadi tantangan yang sering dihadapi orang tua. Meski makanan sudah disiapkan dengan variasi dan gizi seimbang, tidak jarang anak tetap menolak atau hanya mau jenis makanan tertentu.
Hasil Survei Gizi dan Tumbuh Kembang Anak 2026 detikcom mengungkap bahwa sekitar 7 dari 10 orang tua mengaku kebiasaan pilih-pilih makanan menjadi hambatan utama dalam memenuhi kebutuhan gizi harian anak. Dalam situasi ini, mikronutrien seperti vitamin dan mineral kerap menjadi zat gizi yang paling sulit tercukupi. Kondisi tersebut mendorong orang tua mencari berbagai cara agar asupan nutrisi anak tetap terpenuhi.
Menurut ahli, fase pilih-pilih makanan sebenarnya merupakan bagian dari proses belajar makan. Hal yang perlu diperhatikan adalah cara orang tua menyiasatinya agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, strategi seperti apa yang bisa diterapkan agar anak tetap mendapatkan asupan gizi yang cukup tanpa memicu drama di meja makan?
Pilih-Pilih Makanan, Fase Normal atau Tanda Masalah?
Kebiasaan anak menolak makanan tertentu sering membuat orang tua khawatir, terutama jika yang ditolak adalah sayur, buah, atau sumber protein penting.
Pada usia balita, fase ini sebenarnya cukup umum. Anak sedang mengeksplorasi rasa dan tekstur sekaligus mulai menunjukkan kemandirian dalam memilih makanan.
Dalam diskusi Health Corner detikcom bersama Danone Specialized Nutrition Indonesia (12/02/26), Dokter Spesialis Gizi Klinik dr. Juwalita Surapsari, MGz, SpGK, menekankan pentingnya melihat pola makan secara menyeluruh.
"Yang perlu dilihat adalah pola secara keseluruhan. Apakah dalam satu hari kebutuhan gizinya terpenuhi atau tidak. Kalau hanya satu kali makan menolak, itu masih wajar. Tapi kalau hampir setiap hari asupannya tidak seimbang, itu perlu dievaluasi," jelasnya.
Kondisi perlu diwaspadai jika kebiasaan tersebut berlangsung lama dan memengaruhi asupan harian, misalnya anak hanya mau karbohidrat tanpa protein, menolak hampir semua sayur dan buah, atau pertumbuhannya tidak mengikuti kurva usia.
Artinya, pilih-pilih makanan bisa menjadi bagian dari proses belajar makan. Namun jika tidak disiasati, kebiasaan ini berisiko membuat kebutuhan makro dan mikronutrien tidak terpenuhi optimal.
Jangan Paksa, Ini Aturan Makan yang Dianjurkan Ahli
Saat anak susah makan, banyak orang tua spontan memaksa atau membujuk dengan iming-iming hadiah. Padahal, cara ini justru bisa membuat anak semakin menolak makanan.
dr. Juwalita menekankan pentingnya menerapkan feeding rules yang konsisten. Salah satu prinsip utama adalah tidak memaksa anak menghabiskan makanan. Orang tua bertugas menentukan apa yang disajikan, kapan waktu makan, dan bagaimana suasananya. Anak berhak menentukan berapa banyak ia makan. Pembagian peran ini membantu menciptakan suasana yang lebih tenang dan minim tekanan.
Jadwal makan teratur juga penting: tiga kali makan utama dan dua kali selingan dengan jeda cukup. Camilan yang terlalu sering dapat membuat anak kenyang sebelum waktu makan utama, sehingga ia menolak makanan karena memang belum lapar.
Orang tua juga perlu menjadi role model. Anak cenderung meniru, sehingga makan bersama dengan menu yang sama meningkatkan peluang anak mencoba makanan. Suasana makan pun sebaiknya nyaman dan bebas distraksi seperti gawai atau televisi agar anak lebih peka terhadap rasa lapar dan kenyang.
Dengan pendekatan konsisten tanpa paksaan, anak belajar bahwa waktu makan bukan momen menegangkan. Proses ini memang butuh kesabaran, tetapi menjadi fondasi kebiasaan makan sehat sejak dini.
Perlu Tambahan Fortifikasi? Ini Penjelasan Pakar
Idealnya, kebutuhan gizi anak, baik makro maupun mikro, dipenuhi dari makanan sehari-hari. Namun dalam praktiknya, hal ini bisa menjadi tantangan, terutama pada anak yang pilih-pilih makanan.
dr. Juwalita menekankan pentingnya mengevaluasi variasi dan kandungan makanan anak. "Seharusnya kebutuhan nutrisi bisa dipenuhi dari makanan harian. Tetapi kita harus memilih bahan yang tepat dan memastikan setiap waktu makan ada sumber protein hewani serta zat gizi yang dibutuhkan," jelasnya.
Jika dari evaluasi terlihat ada keterbatasan asupan-misalnya anak jarang mengonsumsi protein hewani atau makanan kaya zat besi-pangan terfortifikasi dapat dipertimbangkan sebagai pelengkap.
Hal serupa disampaikan dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH. Menurutnya, fortifikasi membantu mengisi celah asupan zat gizi mikro yang belum tercukupi dari menu keluarga.
"Anak di atas satu tahun sudah makan menu rumahan. Namun dengan berbagai tantangan seperti susah makan, kadang ada celah zat gizi mikro yang belum terpenuhi. Di situ fortifikasi dapat membantu melengkapi," ujarnya.
Ia mencontohkan susu pertumbuhan yang diformulasikan sesuai usia anak. Selain mengandung protein sebagai zat gizi makro, produk ini diperkaya vitamin dan mineral seperti zat besi,vitamin C, dan zinc untuk menunjang tumbuh kembang. Meski begitu, fortifikasi tetap berperan sebagai pelengkap, bukan pengganti pola makan seimbang.
Karena itu, orang tua dianjurkan memilih produk sesuai usia serta tetap memantau pertumbuhan secara berkala. Dengan pola makan terstruktur dan pelengkap yang tepat bila diperlukan, kebutuhan gizi anak dapat tetap terjaga meski menghadapi tantangan pilih-pilih makanan.
(fti/up)











































