Harapan Baru Pasien Gagal Ginjal Lewat CAPD, Cuci Darah Tak Perlu ke RS

Harapan Baru Pasien Gagal Ginjal Lewat CAPD, Cuci Darah Tak Perlu ke RS

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Minggu, 15 Mar 2026 18:09 WIB
Dialysis machine is working. Acting as a substitute for the kidneys to drive waste from the body.
Foto: Getty Images/saengsuriya13
Jakarta -

Selama lebih dari satu dekade, hidup Rudi (bukan nama sebenarnya) seolah terpaku pada jarum jam rumah sakit. Sebagai tulang punggung keluarga, ia harus merelakan dua hari dalam sepekan untuk mengantre, menghadapi tusukan jarum, dan meninggalkan pekerjaannya demi menjalani hemodialisis (HD) atau cuci darah konvensional.

Baginya saat itu, rutinitas yang melelahkan ini adalah satu-satunya napas yang tersisa untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka bahwa di luar ruang perawatan itu, ada pilihan lain yang jauh lebih manusiawi bagi kemandiriannya.

Penyesalan Rudi baru muncul ketika ia bergabung dengan komunitas pasien. Di sanalah ia pertama kali mendengar tentang CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), sebuah metode dialisis mandiri melalui rongga perut yang bisa dilakukan di rumah. Kesadaran itu datang terlambat, memicu pertanyaan getir yang sering menghantui para pasien gagal ginjal di Indonesia: mengapa informasi sepenting ini tidak sampai ke telinga mereka sejak awal?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dominasi Hemodialisis dan Minimnya Edukasi

Kisah Rudi hanyalah satu dari ribuan potret serupa di tanah air. Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir dalam keterangannya menyoroti bahwa hingga kini, hampir 98 persen pasien gagal ginjal di Indonesia langsung diarahkan ke metode hemodialisis. Sayangnya, opsi terapi lain seperti CAPD atau transplantasi ginjal sering kali tidak dipaparkan secara utuh.

"Di Indonesia hampir 98% pasien gagal ginjal langsung masuk ke hemodialisis, sementara pilihan terapi lain seperti CAPD atau transplantasi sering tidak dijelaskan secara utuh kepada pasien. Bagi kami di KPCDI, ini bukan sekadar soal metode terapi, tetapi soal hak pasien untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan menentukan pilihan terapinya sendiri," ujar Tony.

ADVERTISEMENT

CAPD sebagai Jembatan Kemandirian Pasien

Berbeda dengan cuci darah di rumah sakit yang menyita waktu berjam-jam, CAPD menawarkan fleksibilitas yang sangat dibutuhkan oleh pasien yang masih aktif bekerja. Dengan memasukkan cairan pembersih melalui kateter di perut secara mandiri, pasien bisa tetap produktif tanpa harus terikat pada jadwal kunjungan rumah sakit yang kaku. Selain lebih praktis, metode ini juga menurunkan risiko infeksi nosokomial dan memberikan stabilitas kesehatan yang lebih konsisten bagi jantung serta pembuluh darah.

Dari sisi kebijakan nasional, pemerintah melalui BPJS Kesehatan sebenarnya telah memberikan dukungan penuh. Tarif CAPD telah diatur dalam skema yang mencakup seluruh kebutuhan logistik hingga biaya pengiriman alat ke rumah pasien.

Jika dibandingkan secara akumulatif, biaya CAPD cenderung lebih efisien dibandingkan hemodialisis yang memerlukan biaya operasional rumah sakit yang tinggi serta biaya transportasi pasien yang tidak sedikit.

Dari sisi pembiayaan, terapi CAPD juga telah diatur dalam Permenkes Nomor 3 Tahun 2023 sebagai Tarif Non-Indonesian Case Based Group (non INA-CBG) dengan besaran sekitar Rp8 juta per bulan. Tarif tersebut sudah mencakup bahan habis pakai, jasa pelayanan medis, serta distribusi logistik terapi ke rumah pasien.

Sebagai perbandingan, klaim BPJS Kesehatan untuk hemodialisis melalui skema INA-CBG berkisar Rp820 ribu hingga Rp1,2 juta per sesi, tergantung kelas rumah sakit dan wilayahnya.

"Pasien gagal ginjal akan menjalani terapi ini seumur hidup. Karena itu, pasien tidak boleh hanya menjadi objek pengobatan, tetapi harus menjadi subjek yang memahami dan memilih terapinya sendiri," tambah Tony.

Tony berharap edukasi mengenai pilihan terapi dialisis menjadi bagian dari standar pelayanan pasien gagal ginjal, sehingga setiap pasien memahami opsi terapi yang tersedia sebelum memutuskan menjalani dialisis jangka panjang.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Pria Ini Alami Kerusakan Ginjal Gegara Kebanyakan Minum Vitamin D"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads