Stop Cium-Peluk Bayi saat Lebaran! Kata Dokter Anak, Bisa Begini Risikonya

Stop Cium-Peluk Bayi saat Lebaran! Kata Dokter Anak, Bisa Begini Risikonya

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Senin, 16 Mar 2026 08:03 WIB
mother holds her baby in eco-friendly diaper, conscious consumption and motherhood, eco-friendly swaddling systems and replacement of disposable diapers, faceless and close up
Foto: Getty Images/iStockphoto/NataliaLeb
Jakarta -

Media sosial sedang ramai template story Instagram untuk setop memeluk dan mencium bayi di momen lebaran. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan si kecil dari penularan campak dan influenza.

Praktisi kesehatan dr Anton D Saputra, SpA, AIFO-K mengatakan bahwa tren ini terbilang efektif dalam menekan penularan campak. Pasalnya, campak termasuk salah satu penyakit yang mudah menular.

"Khusus untuk campak, kenapa infeksius banget? Campak itu nularin bahkan 4 hari sebelum ruamnya muncul. Kita ada namanya fase prodromal, jadi sebelum muncul ruam di badan, dia bisa 2-3 hari sebelumnya baru mulai demam," kata dr Anton saat dihubungi detikcom, Jumat (13/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada 3C namanya: cough, coryza, conjunctivitis. Matanya merah, batuk, pilek ada 3 itu," sambungnya.

ADVERTISEMENT

dr Anton menekankan bahwa dalam satu hingga dua hari pertama, pasien campak termasuk balita bisa menularkan virus ini ke yang lain, meskipun si pasien tampak sehat-sehat saja.

"Campak itu penyakit yang sudah lama ada, dan sudah ada vaksinnya. Cuman kita kecolongan pada saat pandemi, angka imunisasi menurun, sekarang anti-vaksin juga makin gencar," katanya.

Aktivitas mencium, memeluk, hingga menggendong bayi dapat berisiko menularkan berbagai penyakit yang menular lewat droplet, jadi tidak hanya campak.

"Batuk pilek kan kita nggak tahu nih, apakah kita bersih atau nggak kan," tutupnya.




(dpy/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads