Sebuah studi kasus yang diterbitkan oleh BMJ Case Reports, melaporkan kejadian seorang pasien pria mengalami kerusakan ginjal akibat terlalu banyak mengonsumsi vitamin D. Menurut laporan tersebut, pasien pria paruh baya yang tak disebutkan namanya itu mengalami mual, muntah, nyeri perut, kram kaki, hingga telinga berdenging.
Dikutip dari NYPost, pasien itu juga mengalami mulut kering, haus berlebihan, diare, hingga penurunan berat badan 12 kg lebih tanpa penyebab yang jelas.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter menemukan pasien mengalami kondisi hipervitaminosis D atau penumpukan vitamin D dalam kadar yang beracun, hingga fungsi ginjalnya terganggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terungkap, rupanya pasien selama ini mengonsumsi lebih dari 20 jenis suplemen setelah berkonsultasi dengan seorang ahli nutrisi. Bagian dari regimen tersebut adalah pasien mengonsumsi vitamin D sebanyak 150 ribu IU per hari, lebih dari 200 kali lipat jumlah yang direkomendasikan.
National Institutes of Health (NIH) merekomendasikan asupan vitamin D sebesar 600 IU per hari untuk orang dewasa hingga usia 69 tahun, dan 800 IU per hari untuk usia 70 tahun ke atas.
Pasien menceritakan gejala menyiksa itu sudah muncul selama hampir tiga bulan. Meski ia langsung menghentikan konsumsi suplemen setelah gejala muncul, keluhannya tidak segera membaik.
"Mengingat proses pergantian vitamin D dalam tubuh berlangsung lambat (dengan waktu paruh sekitar dua bulan), selama periode inilah toksisitas vitamin D dapat berkembang, sehingga gejalanya bisa bertahan selama beberapa minggu," tulis peneliti.
Vitamin D punya kemampuan membantu tubuh dalam menyerap kalsium, sehingga memperkuat tulang dan gigi. Namun, konsumsi vitamin D berlebihan dapat memicu hiperkalsemia, kondisi ketika kadar kalsium dalam darah terlalu tinggi.
Kondisi inilah yang menjadi mekanisme utama kerusakan ginjal akibat konsumsi vitamin D secara berlebihan. Hiperkalsemia dapat melemahkan tulang, memicu batu ginjal, serta mengganggu fungsi jantung dan otak.
Tes yang dilakukan menunjukkan kadar vitamin dalam tubuh David mencapai 380 ng/mL, padahal standar yang ditetapkan Harvard berada di angka 30 ng/mL.
"Tidak ada peringatan pada atau di dalam kemasan yang menjelaskan secara spesifik risiko atau efek samping dari konsumsi suplemen vitamin D. Menurut pendapat saya, ada risiko kematian serupa akan terjadi di masa depan jika tidak ada tindakan yang diambil," tulis koroner Jonathan Stevens dalam laporan resminya.
Perlu diingat vitamin D tetap penting untuk tubuh. Hal terpenting yang harus diperhatikan adalah memastikan asupannya tidak berlebihan sehingga manfaatnya bekerja maksimal dan terhindar dari masalah kesehatan lain.











































