Sering Lelah dan Gampang Emosi? Awas Bisa Jadi Burnout Syndrom

Sering Lelah dan Gampang Emosi? Awas Bisa Jadi Burnout Syndrom

Inkana Putri - detikHealth
Jumat, 27 Mar 2026 15:09 WIB
Ilustrasi Burnout Syndrome
Foto: Brawijaya Hospital
Jakarta -

Rasa lelah yang tak kunjung hilang, mudah tersulut emosi, hingga kehilangan motivasi kerja sering kali dianggap hal biasa akibat aktivitas yang padat. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda seseorang mengalami burnout syndrome.

Burnout syndrome kini memang menjadi tantangan kesehatan mental yang serius di era kerja modern yang serba cepat. Jika dibiarkan, burnout tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan.

Mengenal Burnout Syndrome & Gejalanya

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir situs resmi Brawijaya Hospital, burnout syndrome didefinisikan sebagai hasil dari stres kronis di tempat kerja yang gagal dikelola dengan baik. Kondisi ini mencakup tiga dimensi utama: kelelahan hebat, perasaan negatif terhadap pekerjaan, dan penurunan efisiensi profesional secara signifikan.

Mengenali gejala burnout sedini mungkin adalah langkah preventif terbaik untuk menghindari kerusakan kesehatan yang lebih permanen. Berikut beberapa tanda dan gejalanya:

ADVERTISEMENT

1. Gejala Fisik: Dari Insomnia hingga Gangguan Pencernaan

Gejala fisik dari burnout sering kali muncul dalam bentuk kelelahan kronis yang tidak kunjung membaik meski sudah tidur cukup. Hal ini kerap diikuti dengan sakit kepala berulang, ketegangan otot, hingga gangguan tidur atau insomnia. Stres kronis ini berdampak langsung pada sistem imun dan pencernaan, meningkatkan risiko nyeri lambung atau perubahan nafsu makan.

2. Penurunan Performa dan Produktivitas Kerja

Saat burnout, penderita sering mengalami kesulitan fokus hingga kehilangan kreativitas. Penurunan produktivitas ini sering kali dibarengi dengan kebiasaan menunda pekerjaan karena perasaan kewalahan yang luar biasa.

3. Perubahan Emosi: Sikap Sinis, Apatis, dan Mudah Marah

Secara psikologis, burnout mengubah cara pandang seseorang terhadap pekerjaan dan rekan sejawat menjadi lebih negatif dan sinis. Ketidakstabilan emosional membuat penderita menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, dan sering kali meledak-ledak tanpa alasan jelas.

4. Penarikan Diri dari Lingkungan Sosial

Individu yang mengalami burnout cenderung mengisolasi diri karena merasa tidak lagi memiliki energi sosial untuk berinteraksi. Mereka mungkin mulai menghindari rapat, makan siang bersama rekan kerja, hingga menolak ajakan pertemuan dengan teman atau keluarga.

Cara Mengatasi Burnout Syndrome

1. Detachment: Menjauhkan Diri Sejenak dari Rutinitas

Mengambil cuti atau menjauh dari perangkat digital setelah jam kerja sangat efektif untuk menurunkan kadar hormon stres dalam tubuh.

2. Mengatur Skala Prioritas dan Menentukan Batasan (Boundaries)

Menetapkan batasan yang jelas antara kehidupan profesional dan pribadi adalah langkah protektif. Mulailah dengan berkata "tidak" pada beban kerja tambahan untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

3. Memperbaiki Kualitas Tidur dan Istirahat

Tidur yang berkualitas adalah fondasi biologis untuk memulihkan fungsi kognitif dan stabilitas emosional. Jadwal tidur yang teratur dapat mendukung kesehatan mental secara menyeluruh.

4. Rutin Melakukan Aktivitas Fisik dan Olahraga

Olahraga berperan sebagai stress reliever alami yang menurunkan hormon kortisol dan meningkatkan produksi endorfin di otak. Melakukan aktivitas fisik secara rutin, meski hanya jalan cepat selama 30 menit, terbukti mampu meningkatkan suasana hati.

5. Membangun Sistem Pendukung (Social Support)

Berbagi pengalaman dengan orang lain membantu menormalkan perasaan Anda dan memberikan perspektif baru. Berbicara dengan teman, keluarga, atau pasangan dapat memicu pelepasan oksitosin yang berfungsi meredam respons stres pada sistem saraf.

6. Melakukan Konsultasi dengan Tenaga Profesional

Intervensi profesional diperlukan ketika gejala burnout mulai mengganggu fungsi dasar kehidupan. Psikolog atau psikiater membantu mengidentifikasi kondisi dan memberikan terapi terarah, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), untuk mengelola stres kerja.

Anda dapat memanfaatkan layanan psikologi dari Brawijaya Hospital. Dengan pendekatan empati dan berbasis medis, layanan ini akan membantu Anda memetakan kembali kesehatan mental yang terkuras. Seluruh dokter di Brawijaya Hospital juga telah melalui proses seleksi yang ketat melalui credentialing dan privileging, untuk menjamin standar kompetensi dan profesionalisme yang tinggi.

(akd/ega)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads