CATATAN: Depresi dan keinginan bunuh diri adalah kondisi serius yang tidak boleh dianggap sepele. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan emosional, perasaan putus asa, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi layanan kesehatan jiwa terdekat, psikolog, atau psikiater. Anda tidak sendirian, bantuan profesional tersedia untuk membantu Anda melewati masa sulit ini.
Kehadiran baliho raksasa dengan judul film "Aku Harus Mati" di pusat keramaian baru-baru ini memicu polemik besar. Meski dimaksudkan sebagai materi promosi hiburan, para pakar kesehatan jiwa memperingatkan adanya risiko fatal bagi masyarakat yang terpapar pesan tersebut di ruang publik.
Psikiater sekaligus Anggota Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan bahwa penempatan pesan visual yang ekstrem di jalan raya bukan sekadar persoalan estetika iklan, melainkan isu kesehatan mental publik (public mental health) yang sangat serius.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Waspada Fenomena Copycat Suicide
Dalam psikologi suicidologi, terdapat istilah suicide contagion atau copycat suicide, yaitu perilaku bunuh diri yang dipicu oleh paparan informasi, gambar, atau narasi tentang kematian. dr Lahargo menjelaskan bahwa baliho dengan narasi keputusasaan dapat memperkuat skema kognitif negatif pada individu yang sedang berjuang melawan depresi.
"Di titik ini, banner bukan lagi sekadar iklan. Ia berubah menjadi cue psikologis," ujar dr Lahargo dalam keterangannya dikutip detikcom, Minggu (5/4/2026).
Dia memaparkan bahwa visual tersebut dapat memicu activation of death-related thoughts atau pengaktifan pikiran terkait kematian. Bagi individu dengan depresi berat atau ide bunuh diri laten, pesan "Aku Harus Mati" seolah-olah menjadi pembenaran bahwa tidak ada pilihan lain.
Mekanisme Bahaya di Balik Visual Dramatis
dr. Lahargo menguraikan tiga mekanisme psikologis yang berbahaya akibat paparan baliho tersebut:
Priming Effect: Judul provokatif mengaktifkan pikiran negatif serupa pada individu dengan gangguan kecemasan.- Cognitive Reinforcement: Memperkuat keyakinan maladaptif seperti "hidup saya selesai" atau "saya tidak berharga".
- Emotional Suggestibility: Remaja dan individu dalam distres emosional cenderung lebih mudah terpicu oleh visual yang dramatis dan sensasional.
Ruang Publik Harus Ramah Psikologis
Mengingat data WHO menunjukkan satu orang meninggal karena bunuh diri setiap 40 detik di dunia, dr. Lahargo menekankan pentingnya menjaga "keamanan psikologis" di ruang bersama. Jalan raya dilalui oleh anak sekolah, remaja yang sedang rapuh, hingga pasien depresi yang mungkin sedang berjuang diam-diam dalam kesunyian.
"Media menjadi pemantik pada bahan bakar yang sudah ada, yaitu situasi psikologis yang tidak baik-baik saja," ungkap dr Lahargo.
Dia mengimbau agar pesan di ruang publik mempertimbangkan aspek psychological safety. Tidak semua konten yang viral itu aman bagi jiwa, terutama bagi mereka yang sedang berjuang keras untuk tetap bertahan hidup.
"Mari bicara di ruang publik dengan hati-hati!" pungkasnya.
Simak juga Video 'Perolehan Sementara Jumlah Penonton Film Lebaran, Danur Memimpin!':











































