Belakangan viral sebuah akun TikTok yang membagikan pengalamannya saat melahirkan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung. Pemilik akun, Nina Saleha, merasa kecewa karena bayinya nyaris tertukar.
Kejadian ini bermula saat Nina sedang dalam proses penyelesaian administrasi terkait persalinan. Ibu tersebut menitipkan bayinya ke rekan tenaga kesehatan.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman mengungkapkan tenaga kesehatan atau perawat yang dimaksud memang ditempatkan di poli anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan tenaga kesehatan di situ kan tidak hanya menangani bayi secara khusus ya. Dia di poli anak dan memang akhirnya pekerjaannya agak sedikit terganggu dengan ada penitipan tersebut," kata Aji saat ditemui di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (10/4/2026).
"Dan ketika kembali, si ibu mau mengambil anaknya. Mungkin secara tidak sengaja, mungkin ada sedikit di sana terjadi entah pada saat itu perawatnya juga kelupaan atau apa, dan tidak sengaja itu dititipkan ke orang lain," sambungnya.
Dalam penjelasannya, Aji menyangkal narasi yang beredar di masyarakat terkait adanya dugaan tindakan kejahatan. Bahkan, Kemenkes telah berkoordinasi dengan pihak RSHS Bandung dan berjanji hal seperti ini tidak akan terulang lagi.
"Tidak ada maksud untuk hal-hal di luar itu yang ada penculikan atau kejahatan apa. Tidak ada maksid itu, memang itu sekadar kekhilafan saja yang terjadi dari perawat yang di sana," ucap Aji.
Permintaan Maaf dari Pihak RSHS Kota Bandung
Terkait kasus tersebut, pihak manajemen RSHS pun juga sudah menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dan kelalaian dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.
"Sehubungan dengan adanya pemberitaan di media sosial TikTok pada tanggal 8 April 2026 terkait dengan pelayanan kesehatan pada bayi dari Ibu Nina Saleha, maka segenap manajemen RSUP Dr Hasan Sadikin menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya atas ketidaknyamanan peristiwa yang dialami oleh anak Ibu Nina Saleha selama mendapatkan pelayanan kesehatan di RSUP Dr Hasan Sadikin," tulisnya dalam rilis yang dilihat detikcom lewat Instagram resmi RSHS Bandung, Jumat (10/4).
"Pada prinsipnya, RSUP Dr Hasan Sadikin akan selalu melakukan evaluasi dan peningkatan kemampuan dalam pemberian layanan kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku," lanjutnya.
Perawat yang Bersangkutan Dinonaktifkan
Selain itu, manajemen RSHS Kota Bandung juga mengambil langkah tegas. Pihaknya menonaktifkan perawat yang terlibat dalam insiden bayi nyaris tertukar di ruang NICU ini.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama RSUP Dr Hasan Sadikin, Rachim Dinata Marsidi. Ia menegaskan bahwa perawat yang dimaksud telah dipindah ke bagian yang tidak berhubungan dengan pelayanan pasien.
"Perawatnya di nonaktifkan dipindahkan ke bagian yang tidak melayani pasien dan diberikan SP1," kata Rachim dalam keterangannya, dikutip dari detikJabar, Jumat (10/4/2026).
Rachim juga mengungkapkan bahwa pihak rumah sakit bersikap terbuka jika nantinya Kemenkes akan melakukan evaluasi. Pembenahan internal juga akan dilakukan dengan memperkuat standar operasional prosedur (SOP), terutama dalam proses penyerahan bayi kepada orang tua.
"RSHS akan mengevaluasi dan melakukan pembinaan lagi kepada para perawat terhadap kepatuhan melaksanakan SOP mengenai penyerahan bayi ke pada orang tauanya yang selama ini sudah berjalan dengan baik," tutupnya.
Simak Video "Video: Penjelasan Menkes soal Pasien 'Super Flu' di RSHS Bandung Meninggal"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)











































