Perempuan di India Akhiri Hidup Usai Disuntik Darah Positif HIV oleh Mantan Kekasih

Perempuan di India Akhiri Hidup Usai Disuntik Darah Positif HIV oleh Mantan Kekasih

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Jumat, 17 Apr 2026 11:29 WIB
Holding a test tube with blood in it. Handwritten label with HIV on it with the negative tick box crossed.
Foto: Getty Images/Thomas Faull
Jakarta -

CATATAN: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk mengakhiri hidup, segera hubungi profesional atau layanan kesehatan mental terdekat.

Sebuah tragedi memilukan mengguncang Hyderabad, India. Seorang perempuan berusia 24 tahun berinisial R, ditemukan tewas setelah mengakhiri hidupnya sendiri. Keputusan tragis ini diambil hanya sebulan setelah ia menjadi korban serangan keji: disuntik secara paksa dengan darah positif HIV oleh mantan kekasih yang sakit hati karena lamarannya ditolak.

Peristiwa ini bermula pada 11 Maret lalu. Diberitakan NDTV, pelaku yang bernama Manohar, yang masih memiliki hubungan kerabat dengan korban, merasa tidak terima setelah rencana pernikahan mereka dibatalkan oleh pihak keluarga perempuan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya, orang tua korban berencana menikahkan putri mereka dengan Manohar. Namun, karena mengetahui orang tua Manohar mengidap HIV, keluarga korban meminta Manohar melakukan tes kesehatan pada September tahun lalu sebagai prasyarat.
Hasil tes menunjukkan bahwa Manohar juga positif mengidap virus tersebut.

Mengetahui hal ini, korban langsung membatalkan rencana pernikahan mereka demi kesehatannya di masa depan. Tak terima dengan keputusan tersebut, Manohar mendatangi rumah korban dan melakukan tindakan kriminal yang tidak terbayangkan: ia menyuntikkan darahnya sendiri yang terinfeksi virus ke tubuh korban secara paksa.

ADVERTISEMENT

Beban Mental dan Stigma Sosial

Meski Manohar telah ditangkap tak lama setelah kejadian, luka psikologis yang dialami korban jauh lebih dalam daripada luka fisiknya. Pihak kepolisian menyebutkan bahwa korban mengalami stres mental yang sangat berat akibat ketakutan akan penyakit tersebut dan trauma emosional yang mendalam.

Dalam sebuah catatan terakhir yang ditinggalkannya sebelum ditemukan meninggal pada hari Jumat lalu, korban mengungkapkan perasaan hancurnya. Ia merasa pelaku telah merusak hidupnya secara permanen melalui infeksi tersebut.

Korban mengaku sangat tertekan oleh banyaknya komentar negatif dan hilangnya privasi setelah kasusnya menjadi viral di media sosial. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada orang tuanya sebelum akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup.
Penyidikan Polisi

Pihak Kepolisian Pocharam IT Corridor mengonfirmasi bahwa dampak psikologis dan stigma sosial menjadi faktor utama pendorong korban melakukan tindakan nekat ini.

"Kami menduga kuat bahwa dampak psikologis dari serangan HIV dan tekanan sosial itulah yang mendorongnya mengambil langkah ini," ujar inspektur polisi setempat.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Apa Tantangan Terbesar Hidup sebagai Perempuan dengan HIV?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads