Dokter Tangani Kasus Langka Pasien Idap Alergi Air, Biduran Tiap Kali Mandi

Dokter Tangani Kasus Langka Pasien Idap Alergi Air, Biduran Tiap Kali Mandi

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Senin, 20 Apr 2026 19:05 WIB
Ilustrasi mandi wajib
Foto: Getty Images/iStockphoto/Iurii Garmash
Jakarta -

Bagi sebagian besar orang, mandi atau berenang adalah aktivitas rutin yang menyegarkan. Namun, bagi seorang remaja perempuan di Kanada, air adalah pemicu rasa sakit.

Ia didiagnosis dengan kondisi medis sangat langka bernama Aquagenic Urticaria, atau yang lebih dikenal sebagai alergi air.

Kisah medis yang unik ini bermula saat ia dirujuk ke klinik karena munculnya ruam kemerahan atau biduran berulang setiap kali kulitnya bersentuhan dengan air. Ruam tersebut biasanya berukuran 1 hingga 3 sentimeter dan terasa gatal serta panas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemicu yang Muncul Sejak Pubertas

Diberitakan Live Science, pasien menceritakan bahwa gejala ini pertama kali muncul sekitar dua tahun lalu, tak lama setelah ia mulai mengalami masa menstruasi. Sejak saat itu, setiap kali kulitnya basah, tanpa memandang suhu atau jenis airnya (baik air tawar maupun air laut), benjolan merah akan muncul.

Ruam tersebut biasanya muncul dalam waktu 20 menit setelah mandi, berenang, atau bahkan saat kehujanan.

ADVERTISEMENT

Menariknya, gejala tersebut biasanya hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan dalam waktu 30 hingga 60 menit. Uniknya lagi, keringat dan air mata miliknya sendiri tidak memicu gejala tersebut.


Tantangan Diagnosa Medis

Dokter sempat kesulitan menentukan penyebabnya karena biduran umumnya dipicu oleh makanan atau benda yang disentuh. Setelah dilakukan tes laboratorium darah dan urine yang menunjukkan hasil normal, dokter melakukan tes provokasi.

Sebuah kain yang dibasahi air suhu ruang ditempelkan pada perut remaja tersebut selama 20 menit. Hasilnya, benjolan merah langsung terlihat. Berdasarkan riwayat medis dan tes tersebut, dokter resmi mendiagnosisnya dengan Aquagenic Urticaria.

Hingga saat ini, para peneliti mencatat hanya ada sekitar 100 kasus serupa yang pernah dilaporkan di seluruh dunia. Penyebab pastinya belum diketahui, meski sering kali muncul di awal masa pubertas dan lebih banyak menyerang perempuan dibandingkan laki-laki.


Titik Terang Pengobatan

Awalnya, ibu remaja tersebut mencoba memberikan obat asma (montelukast) yang hanya memberikan sedikit perbaikan. Namun, tim dokter kemudian meresepkan dosis harian antihistamin jenis cetirizine.

Hasilnya luar biasa. Setelah delapan bulan pengobatan, gejalanya hanya akan kembali jika ia lupa meminum obat. Pada kunjungan lanjutan 14 bulan kemudian, ia melaporkan bahwa ia sudah bisa menjalani aktivitas sehari-hari secara normal tanpa batasan apa pun.

Kualitas hidupnya kembali membaik selama ia rutin mengonsumsi obat tersebut.

Halaman 2 dari 3
(kna/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads