Anggaran Belanja Miliaran BGN yang Disorot Publik, dari Sewa EO-Beli Semir Sepatu

Anggaran Belanja Miliaran BGN yang Disorot Publik, dari Sewa EO-Beli Semir Sepatu

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Selasa, 21 Apr 2026 05:20 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana saat konferensi pers terkait penguatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (17/3/2026). Dalam upaya memperkuat pengawasan, Badan Gizi Nasional (BGN) mengganden
Foto: Gilang Faturahman/detikfoto
Jakarta -

Belakangan ini, publik ramai membicarakan sejumlah pengadaan barang di Badan Gizi Nasional (BGN) yang dinilai tidak langsung berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

BGN diketahui mengeluarkan uang mulai ratusan miliar rupiah hingga triliunan, mulai dari jasa event organizer (EO), pembelian semir dan sikat sepatu, hingga pengadaan kendaraan. Daftar belanja tersebut memicu tanda tanya: seberapa relevan dengan upaya perbaikan gizi masyarakat?

1. Anggaran Sewa Jasa EO

BGN menggelontorkan anggaran Rp 113 miliar untuk jasa Event Organizer (EO). Menurut Kepala BGN Dadan Hindayana, pihaknya melakukan ini karena BGN merupakan lembaga baru yang tengah membangun sistem dan tata kelola operasional, sehingga sumber daya internal belum siap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebagai lembaga baru yang dibentuk untuk menjalankan program strategis nasional tentu berada dalam fase awal pembangunan sistem, struktur organisasi, serta tata kelola operasional. Dalam tahap ini, BGN belum memiliki sumber daya internal yang sepenuhnya siap untuk menangani seluruh kebutuhan kegiatan berskala besar secara mandiri," ujar Dadan dalam keterangannya, Minggu (12/4/2026).

Dadan menerangkan dalam penyelenggaraan event, kampanye publik, dan sosialisasi nasional yang berskala besar dan kompleks, diperlukan dukungan pihak profesional. EO, lanjut Dadan, memiliki keahlian yang belum sepenuhnya dimiliki BGN saat ini.

ADVERTISEMENT

Dadan juga menilai penggunaan EO membantu aspek administrasi dan keuangan menjadi lebih tertib. Dengan pihak ketiga, proses pengadaan, pembayaran vendor, hingga pelaporan bisa dilakukan lebih sistematis.

"Ini justru memudahkan audit dan pengawasan karena semua terdokumentasi dengan baik," ujarnya.

2. Pengadaan Motor Listrik

Pengadaan lain yang membuat publik bertanya-tanya adalah terkait motor listrik untuk mendukung operasional program MBG, khususnya mobilitas Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ini telah direncanakan dalam kerangka anggaran dan bukan program baru.

"Pengadaan motor listrik ini sudah direncanakan dalam anggaran tahun 2025 sebagai bagian dari dukungan operasional Program MBG," beber Dadan di Jakarta, Selasa (7/4).

Pada akhir 2025 Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) telah mengajukan Surat Perintah Membayar (SPM) sehingga anggaran masuk ke Rekening Penampungan Akhir Tahun Anggaran (RPATA). Mekanisme ini mengacu pada PMK 84 Tahun 2025 dengan sistem pembayaran dua tahap, yakni 60 persen pada tahap pertama dan pelunasan setelah pekerjaan selesai 100 persen.

Namun hingga batas akhir 20 Maret 2026, penyedia hanya mampu menyelesaikan 85,01 persen atau sebanyak 21.801 unit dari total 25.644 unit yang dikontrakkan. Sisa dana yang telah ditampung kemudian dikembalikan ke kas negara.

Dengan begitu, realisasi pengadaan motor listrik tercatat sebanyak 21.801 unit. Dadan menegaskan informasi yang menyebut jumlah mencapai 70.000 unit tidak benar.

BGN juga menyatakan bahwa seluruh motor listrik yang diproduksi merupakan produk dalam negeri dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 48,5 persen. Produksi dilakukan di fasilitas manufaktur yang berlokasi di Citeureup, Jawa Barat.

3. Semir dan Sikat Sepatu

Paling baru adalah isu pengadaan semir dan sikat sepatu senilai Rp 1,5 miliar oleh BGN. Menurut Dadan, ini menjadi bagian dari kebutuhan pendidikan dan pelatihan program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2025.

Program ini ditujukan untuk menyiapkan peserta sebagai komponen pendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Ini bagian dari perlengkapan pendidikan peserta SPPI," kata Dadan kepada wartawan, Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, anggaran pendidikan SPPI memang berasal dari BGN. Namun untuk proses pengadaan barang, termasuk semir dan sikat sepatu, dilakukan melalui skema swakelola tipe II dengan melibatkan Universitas Pertahanan.

Dadan merinci bahwa pengadaan tersebut masuk dalam tujuh paket kelengkapan perorangan lapangan yang diberikan kepada peserta SPPI. Total nilai pengadaan mencapai sekitar Rp 1,52 miliar.

Adapun rinciannya:

  • Semir sepatu: sekitar Rp 1,25 miliar
  • Sikat semir: sekitar Rp 272 juta

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video BGN Sebut Program MBG Butuh Tambahan Anggaran hingga Akhir Tahun "
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads