Dokter Harvard Ungkap Tanda Tubuh Tak Baik-baik Saja yang Bisa Dilihat dari Feses

Dokter Harvard Ungkap Tanda Tubuh Tak Baik-baik Saja yang Bisa Dilihat dari Feses

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kamis, 23 Apr 2026 05:15 WIB
Ilustrasi Toilet
Ilustrasi. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Rawf8)
Jakarta -

Kebiasaan buang air besar (BAB) kerap dianggap sepele dan jarang dibicarakan. Padahal, kondisi ini bisa menjadi indikator penting kesehatan tubuh, bahkan menandakan adanya masalah serius jika tidak berjalan normal.

Dokter Harvard Medical School Trisha Pasricha menyebut banyak orang merasa malu membicarakan masalah pencernaan, meski keluhannya cukup mengganggu.

"Bahkan saya sebagai dokter gastroenterologi masih melihat ini setiap hari. Pasien datang ke klinik saya dan mereka sangat malu untuk mengungkapkan masalahnya."

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, keluhan yang sering muncul meliputi perut kembung, nyeri setelah makan, sembelit, nyeri saat BAB, hingga diare. Kondisi ini dialami banyak orang dan bisa berdampak pada kualitas hidup sehari-hari.

Tiga Faktor Penting BAB Sehat

Pasricha memperkenalkan konsep 'tiga P' yang menentukan kualitas BAB, yakni propulsion, pliability, dan pelvic floor. Konsep ini juga ia bahas dalam bukunya, You've Been Pooping All Wrong: How to Make Your Bowel Movements a Joy.

ADVERTISEMENT

"Dengan informasi ini, bisa lebih mudah dan sistematis menilai mana dari tiga masalah ini yang menjadi penyebab, serta apakah sudah menerapkan semuanya secara bersamaan. Untuk mendapatkan BAB yang baik, ketiga faktor ini harus selaras."

1. Propulsion (dorongan)

Faktor ini berkaitan dengan tekanan dan kontraksi usus yang mendorong feses keluar. Salah satu mekanisme penting adalah Valsalva maneuver, yaitu mengejan saat BAB.

"Ini meningkatkan tekanan di dada dan rongga perut kita, yang kemudian tidak punya arah lain selain ke bawah."

Jika dorongan ini tidak optimal, misalnya sering menahan BAB, risiko sembelit hingga wasir bisa meningkat.

2. Pliability (kelunakan feses)

Ini berkaitan dengan tekstur feses. Semakin lunak, semakin mudah dikeluarkan. Faktor utamanya adalah asupan cairan dan serat.

Kurang minum atau kurang serat bisa membuat feses keras. Sebaliknya, menahan BAB terlalu lama juga bisa memperburuk kondisi karena air dalam feses terserap kembali oleh tubuh.

3. Pelvic floor (otot dasar panggul)

Otot ini berperan penting dalam proses BAB. Jika tidak relaks saat mengejan, feses justru sulit keluar dan bisa memicu sembelit kronis.

Pasricha mengibaratkan seperti memencet pasta gigi tanpa membuka tutupnya, tekanan ada, tapi tidak keluar.

Kapan Harus Waspada?

Pasricha mengingatkan, masalah BAB yang dibiarkan bisa berkaitan dengan gangguan kesehatan lain seperti wasir hingga penyakit kronis.

Ia menyarankan untuk segera ke dokter jika muncul gejala seperti nyeri atau perdarahan saat BAB. Selain itu, jika kondisi tidak membaik setelah 2 sampai 3 bulan, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan.

"Jika Anda belum melihat perbaikan setelah lebih dari dua hingga tiga bulan, sebaiknya periksa ke dokter."

Ia juga menekankan pentingnya memahami tubuh sendiri agar tidak terlambat menangani masalah pencernaan.

"Mengenal tubuh sendiri bisa sangat memberdayakan. Saya ingin semua orang bisa hidup tanpa kebiasaan BAB mengganggu aktivitas sosial mereka."

Halaman 2 dari 2
(naf/naf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads