Jabodetabek Panas 'Mendidih', BMKG Ungkap Pemicunya

Jabodetabek Panas 'Mendidih', BMKG Ungkap Pemicunya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Senin, 27 Apr 2026 12:48 WIB
Pekerja melintasi pelican crossing Tosari, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (17/3/2026), dengan menggunakan payung untuk menghindari terik matahari. Suhu di Jakarta tercatat mencapai 35,6 derajat Celsius.
Foto: Ari Saputra/detikFoto
Jakarta -

Cuaca panas menyengat melanda wilayah Jabodetabek dalam beberapa hari terakhir. Suhu yang terasa lebih terik dari biasanya dikeluhkan sejumlah warganet di media sosial.

"di tempat kalian panas banget nggak sih," tulis salah satu netizen di X.

"Guys ini panas engap gada angin, sampai kapan sih, takut berubah jadi naga," timpal lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menanggapi fenomena ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut suhu udara di Jabodetabek memang mengalami peningkatan signifikan.

Prakirawan cuaca BMKG, Rira Damanik, mengungkapkan suhu maksimum terpantau mencapai 35 hingga 36 derajat Celsius, terutama di wilayah Jakarta Utara dan sekitarnya.

ADVERTISEMENT

"Dalam beberapa hari terakhir, kondisi cuaca cerah mendominasi sejak pagi hingga siang hari, sehingga suhu terasa cukup terik," ujar Rira kepada detikcom Senin (27/4/2026).

Menurutnya, kondisi panas dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah posisi semu matahari yang berada di sekitar khatulistiwa, sehingga intensitas penyinaran matahari di wilayah Indonesia sedang berada pada titik maksimum.

Selain itu, minimnya tutupan awan turut memperparah kondisi. Langit yang cenderung cerah membuat radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa hambatan.

Faktor lain adalah dominasi angin timuran yang berasal dari Australia. Angin ini bersifat kering dan menghambat pembentukan awan, khususnya di wilayah selatan ekuator, termasuk Jabodetabek.

Rira membantah kemungkinan Indonesia sudah menghadapi fenomena El Nino. Kondisi yang terjadi saat ini ditegaskan merupakan dinamika cuaca musiman.

BMKG memprediksi cuaca panas dan terik masih akan berlangsung hingga awal Mei 2026, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator.

Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, menggunakan pelindung seperti topi atau payung, serta memperbanyak konsumsi air putih guna menghindari dampak buruk akibat paparan panas ekstrem.




(naf/naf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads