Siloam Hadirkan Terapi Atrial Fibrilasi Minim Radiasi, Pertama di Asia Tenggara

Siloam Hadirkan Terapi Atrial Fibrilasi Minim Radiasi, Pertama di Asia Tenggara

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Senin, 04 Mei 2026 09:26 WIB
Jakarta -

Atrial fibrilasi (AF), salah satu gangguan irama jantung paling umum, sering kali datang tanpa gejala yang jelas namun membawa risiko serius seperti stroke dan gagal jantung. Secara global, hingga 40 persen kasus stroke iskemik berkaitan dengan kondisi ini. Di Indonesia, tantangannya bahkan lebih kompleks-pasien cenderung berusia lebih muda, sementara upaya pencegahan stroke masih belum optimal.

Kondisi ini mendorong kebutuhan akan pendekatan penanganan yang tidak hanya efektif, tetapi juga lebih aman dan minim risiko. Menjawab hal tersebut, Siloam International Hospitals menghadirkan pendekatan terbaru dalam tata laksana atrial fibrilasi melalui kombinasi teknik ablasi dengan paparan radiasi minimal (minimal fluoroskopi) yang didukung teknologi Intracardiac Echocardiography (ICE) yang berhasil diimplementasikan oleh Kepala Staf Medis Fungsional Bidang Kardiologi Siloam Hospitals TB Simatupang sekaligus guru besar aritmia di Indonesia, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP (K), FIHA bersama tim aritmia, yang telah melakukan live case penanganan atrial fibrillation (AF) dengan pendekatan minimal fluoroscopic yang didukung teknologi Intra Cardiac Echocardiography (ICE)/USG dalam jantung.

Live case ini sendiri diikuti oleh berbagai ahli jantung dari berbagai negara dan menjadi momentum penting dalam menunjukkan kesiapan layanan elektrofisiologi jantung di Indonesia sekaligus menempatkan Siloam Hospitals TB Simatupang sebagai layanan kesehatan yang unggul di bidang kardiologi di tingkat internasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konsultan aritmia, dr Budi Ario Tejo, SpJP(K), FIHA, bagian dari Tim Aritmia Siloam Hospitals TB Simatupang mengatakan pada umumnya untuk penanganan atrial fibrilasi dokter akan menggunakan metode C.A.R.E sesuai pedoman terkini.

"Jadi Comorbid and Risk Factor Control, Avoid Stroke, Reduce Symptom, dan satu lagi Evaluation and Dynamic Reassesment," kata dr Budi ketika berbincang dengan detikcom di acara Siloam Cardiac Summit 2026 di Jakarta Selatan, Sabtu (25/4/2026).

ADVERTISEMENT

"Jadi upaya-upaya itu bertujuan untuk memperbaiki outcome dari si atrial fibrilasi ini. Karena kalau kita tahu atrial fibrilasi itu berkaitan dengan risiko kematian yang 5 kali lipat lebih tinggi, risiko gagal jantung yang 5 kali lipat lebih tinggi, dan juga risiko stroke yang sangat tinggi, terutama stroke sumbatan," sambungnya.

Mengenal Pendekatan Minim Radiasi dan Teknologi ICE

Minimal Fluoroscopic AF Ablation adalah prosedur ablasi kateter untuk Atrial Fibrillation (AF) yang dilakukan dengan minimal fluoroskopi (sinar-X) sebagai panduan utama. Prosedur ini digunakan untuk menghentikan gangguan irama jantung dengan 'mengisolasi' (ablasi) sumber sinyal listrik abnormal di atrium (biasanya di sekitar pulmonary vein) dan dilakukan hampir tanpa paparan radiasi X-ray, yang berbeda dengan teknik konvensional.

Teknologi Intra Cardiac Echocardiography (ICE)/USG dalam jantung membantu visualisasi struktur jantung secara lebih baik selama prosedur. Hal ini mendukung ketepatan tindakan, serta mencerminkan upaya menuju layanan yang semakin presisi sebagai upaya untuk peningkatan mutu layanan dan keselamatan pasien.

Live case yang telah dilakukan menggunakan ekosistem VARIPULSE™ yaitu teknologi Pulsed Field Ablation (PFA) pertama yang dirancang untuk menyederhanakan prosedur ablasi dan pemetaan jantung melalui satu alur kerja terintegrasi dengan Sistem CARTO™ 3.

Teknologi pemetaan jantung elektroanatomi 3D ini memungkinkan visualisasi secara real-time dan mendukung presisi, efisiensi, konsistensi, serta akurasi prosedur bagi dokter dalam menangani pasien dengan atrial fibrillation (AFib). Teknologi ini memungkinkan terapi yang aman dan efisien berfokus pada pasien, dengan paparan fluoroskopi minimal hingga tanpa fluoroskopi serta kompatibel untuk prosedur dengan sedasi dalam maupun sedasi dengan kondisi pasien tetap sadar.

Lebih dari 50 persen pasien, lanjut dr Budi, atrial fibrilasi akan memberikan beberapa gejala yang mengganggu kualitas hidup seperti berdebar, mudah lelah, intoleransi aktivitas.

"Dalam upaya mengendalikan atrial fibrilasi itu, kita bisa kembalikan dia iramanya ke irama yang normal, jadi yang tadinya tidak teratur kami bikin jadi teratur. Atau kami kendalikan lajunya, yang tadinya cepat kami bikin tidak terlalu cepat," kata dr Budi.

Pada pasien-pasien yang bergejala, pengembalian irama jantung ke mode normal akan menghilangkan keluhan dari pasiennya. Hal ini bisa dengan pemberian obat atau dengan ablasi.

Teknologi terbaru menggabungkan ICE dengan sistem pemetaan jantung 3D (electroanatomical mapping), sehingga dokter dapat melakukan ablasi tanpa bergantung pada sinar-X.

"Dengan Intracardiac Echocardiography ini, kebutuhan penggunaan X-ray itu akan jauh lebih kecil. Bahkan bisa sampai dengan zero," tegas dr Budi.

"Dengan kondisi seperti itu, otomatis risiko-risiko yang terkait dengan paparan radiasi akan sangat jauh berkurang. Paparan radiasi itu baik terhadap operatornya, terhadap timnya, atau terhadap pasiennya sendiri," sambungnya.

Kolaborasi Internasional

Teknik ablasi dengan minimal fluoroskopi atau bahkan tanpa paparan sinar-X (zero fluoroscopy) masih tergolong baru di Indonesia. Sebagai bagian dari pengembangan layanan kardiologi berstandar global, Siloam International Hospitals menjalin kolaborasi dengan berbagai mitra internasional untuk menghadirkan pendekatan ini di Indonesia.

"Kalau kita bisa bilang, ini termasuk yang pertama di Asia Tenggara. Karena ini merupakan teknologi baru, kami juga melibatkan Prof. Ligang Ding dari Fuwai Hospital di China," ujar dr Budi.

Teknik ablasi dengan minimal fluoroskopi atau bahkan zero ini terbilang baru di Indonesia. Siloam Hospitals TB Simatupang bekerjasama dengan pihak-pihak internasional untuk hal ini.

Fuwai Hospital merupakan pusat untuk tindakan aritmia di China, dengan jumlah tindakan yang terbilang banyak.

"Dengan melibatkan beliau, kami mengharapkan adanya alih teknologi, terutama untuk tindakan ablasi yang menggunakan fluoroskopi yang sangat minimal atau bahkan sampai zero," tutupnya.

Melalui pengenalan teknologi ini, Siloam berharap kesadaran masyarakat terhadap gangguan irama jantung semakin meningkat, sekaligus memperluas akses terhadap penanganan yang lebih aman, presisi, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Halaman 2 dari 2
(dpy/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads