Siapa yang suka minum kopi? Selain bikin melek, kopi kaya akan antioksidan yang baik untuk tubuh. Beberapa potensi manfaat kesehatan yang bisa didapatkan seperti meningkatkan fungsi kognitif dan fokus, kaya antioksidan yang membantu melawan peradangan, serta berpotensi menurunkan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe dua, penyakit jantung, hingga beberapa jenis kanker.
Namun di Dukuh Gumuk, Desa Mriyan Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, manfaat kopi naik kelas, tidak hanya menyehatkan pengonsumsinya, tapi juga 'menyehatkan' aliran Sungai Pusur. Di lokasi tersebut, terdapat budidaya kopi arabika yang dilakukan dengan metode agroforestri yang salah satu tujuannya untuk konservasi air di hulu daerah aliran Sungai Pusur yang membentang di Kabupaten Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo.
Agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan yang menggabungkan penanaman pohon dengan tanaman pertanian atau peternakan dalam satu area yang sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga lingkungan, seperti memperbaiki kesuburan tanah dan mengurangi erosi.
"Pohonnya (kopi) itu tidak terlalu tinggi, perlakuannya itu sangat mudah. Karena kalau tinggi, dipangkas dan tidak mengganggu tanaman yang sudah ada, misalnya komoditas tembakau dan mawar," kata Ketua Padepokan Konservasi Ekologi Masyarakat (Pakem) Dukuh Gumuk, Joko Susanto ketika berbincang dengan wartawan, Selasa (5/5/2026).
Selain kopi, tanah secara bersamaan juga ditanami tumbuhan lain seperti pohon alpukat, mawar, hingga tembakau. Hal ini yang akhirnya membuat kopi di Dukuh Gumuk memiliki aroma mawar hingga bakau.
Kopi yang diberi nama 'kopi gumuk' dalam program 'kopi konservasi' ini cenderung asam dan ringan saat dikonsumsi. Bagi yang tidak suka rasa pahit kopi atau bukan peminum kopi, kopi gumuk ini mungkin akan sangat cocok, bahkan tanpa tambahan pemanis.
"Ada hint aroma mawar dan tembakaunya. Kopinya itu cenderung asam," ungkap Joko Susanto.
Program agroforestri budidaya kopi di Dukuh Gumuk ini diinisiasi oleh Aqua sejak tahun 2017. Ini merupakan salah satu bentuk langkah konservasi air di hulu daerah aliran Sungai Pusur.
Konservasi yang dilakukan di tersebut bertujuan untuk menjaga ketersediaan air yang berkelanjutan, menjaga kemurnian air dan kelestarian ekosistem, hingga melindungi keanekaragaman hayati. Senior Manager Public Affairs and Sustainability Aqua Jeffri Ricardo berharap lewat konservasi ini, Aqua bisa mengembalikan lebih banyak air ke alam dibandingkan air yang digunakan untuk produksi.
"Jadi kami punya komitmen untuk bisa memulihkan lebih banyak air daripada yang kami gunakan, seperti itu. Nah untuk itu, approach untuk intervensi yang kami lakukan itu memang integrated dari hulu sampai hilir," ungkap Jeffri.
Tahapan konservasi yang dilakukan di hulu daerah aliran Sungai Pusur tidak hanya berupa budidaya kopi saja. Namun, juga dilakukan budidaya anggrek, pembentukan pusat belajar konservasi komunitas (PBKK), penanaman tanaman keras, pemanfaatan tanaman herbal dan indigofera, hingga kerjasama dengan Taman Nasional Gunung Merapi.
Selain di daerah hulu, konservasi ini juga dilakukan di bagian tengah dan hilir daerah aliran Sungai Pusur. Langkah konservasi yang dilakukan meliputi pertanian regeneratif, membuat Taman Kehati, menjaga rumah sumber, laboratorium biotilik, dan masih banyak lagi.
"Dalam proses itu kita menggandeng berbagai multi-stakeholder yang ada di area sub-daerah aliran sungai Pusur, termasuk dibantu oleh Pusur Institut," katanya.
"Yang dilaksanakan itu sebenarnya berdasarkan identifikasi dari kajian dan studi ilmiah yang dilakukan dengan beberapa akademik dan perguruan tinggi. Kalau kita berbicara untuk bisa menyerapkan air lagi kembali ke recharge area (area imbuhan air), itu intervensi di mana saja dan apa saja," tandas Jeffri.











































