Negara Tetangga RI Lagi 'Panas Mendidih', 2 Warganya Tewas Diduga Heatstroke

Negara Tetangga RI Lagi 'Panas Mendidih', 2 Warganya Tewas Diduga Heatstroke

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Jumat, 08 Mei 2026 16:05 WIB
Negara Tetangga RI Lagi Panas Mendidih, 2 Warganya Tewas Diduga Heatstroke
Foto ilustrasi: REUTERS/CHALINEE THIRASUPA
Jakarta -

Gelombang panas ekstrem tengah melanda dua negara tetangga Indonesia, yakni Thailand dan Malaysia. Otoritas setempat sampai mengeluarkan peringatan kesehatan akibat suhu panas terus melonjak dan berisiko memicu penyakit, termasuk heatstroke atau serangan panas.

Di Bangkok, Thailand, indeks panas yang mengukur kombinasi suhu udara dan kelembapan dilaporkan melampaui 52 derajat celcius pada Senin (4/5/2026). Angka ini masuk dalam kategori 'bahaya ekstrem'.

Melihat fenomena tersebut, warga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan dan mewaspadai tanda-tanda heatstroke. Misalnya seperti suhu tubuh tinggi, kebingungan, hingga keringat berlebihan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Panasnya gila. Rasanya seperti matahari bekerja sangat keras," cerita warga Bangkok, Suwannee Jonyanata, dikutip dari The Independent Singapore.

Untuk mengatasinya, pemerintah Bangkok membuka lebih dari 200 fasilitas umum yang dilengkapi dengan AC atau pendingin udara. Ini berfungsi untuk membantu warga menghadapi cuaca panas ekstrem.

ADVERTISEMENT

Sementara di Malaysia, suhu panas yang tinggi bahkan dilaporkan memakan korban jiwa. Seorang pelari berusia 41 tahun meninggal dunia di Penang usai mengikuti ajang atletik.

Korban lain adalah seorang balita berusia dua tahun di Kelantan. Ia ditemukan meninggal setelah tertinggal di dalam kendaraan.

Kementerian Kesehatan Malaysia pada Selasa (5/5) melaporkan sedikitnya 56 kasus heatstroke yang terjadi di seluruh negeri. Pemerintah setempat juga memperingatkan paparan panas berkepanjangan bisa berdampak serius pada kesehatan.

Suhu di wilayah utara Malaysia diperkirakan mencapai 37 derajat celcius pekan ini. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan pemerintah telah meminta dilakukan operasi penyemaian awan di Kedah, Perlis, dan sejumlah wilayah lain yang mengalami krisis air.

Di sisi lain, kondisi panas ekstrem di Asia Tenggara ini terjadi bersamaan dengan krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan energi dunia membuat sejumlah negara Asia menghadapi kenaikan harga bahan bakar.

Situasi ini memaksa beberapa negara menerapkan langkah penghematan energi, termasuk menurunkan penggunaan pendingin ruangan.

Cuaca panas juga diperkirakan belum akan mereda meski musim hujan mulai datang. Fenomena 'Super El Niño' disebut berpotensi membuat suhu di Asia Tenggara terasa semakin panas selama beberapa bulan ke depan.

Halaman 2 dari 2
(sao/naf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads