Di Forum Akademik Malaysia, Kepala BPOM Soroti Masa Depan Gene Therapy

Di Forum Akademik Malaysia, Kepala BPOM Soroti Masa Depan Gene Therapy

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Minggu, 24 Mei 2026 19:09 WIB
Dok. BPOM RI
Kepala BPOM RI saat menerima Certificate Appointment dari UTM Space di Kuala Lumpur, Malaysia (Foto: Dok. BPOM RI)
Jakarta -

Kepala BPOM RI Prof Taruna Ikrar menerima penugasan akademik sebagai Adjunct Professor bidang Advanced Cell Gene Therapy Pharmacology dari UTM Space di Kuala Lumpur, Malaysia pada Sabtu (23/5/2026).

Penugasan akademik tersebut berlangsung dalam forum yang dihadiri unsur akademisi, pejabat pemerintah, dan perwakilan Indonesia-Malaysia sebagai bagian dari penguatan kolaborasi ilmu pengetahuan dan kesehatan.

Penganugerahan tersebut diberikan atas kontribusi akademik Taruna Ikrar di bidang biomedis, neurosains, farmakologi, terapi sel dan gen (cell and gene therapy), serta kesehatan masyarakat. Selama lebih dari dua dekade, ia aktif mengembangkan riset lintas disiplin, termasuk pemetaan otak (brain mapping), neurofarmakologi, hingga pengembangan pendekatan terapi modern berbasis sel dan gen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Taruna menekankan bahwa perkembangan teknologi kesehatan perlu diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Pharmacology is about one simple thing: saving lives," ujar Taruna dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).

ADVERTISEMENT

Ia juga menyoroti perkembangan gene therapy sebagai salah satu pendekatan medis yang berkembang cepat di tingkat global. Menurutnya, terapi gen membuka peluang pengobatan yang lebih presisi karena diarahkan pada akar biologis penyakit melalui modifikasi atau penggantian fungsi gen tertentu.

"Sains tidak boleh berhenti di laboratorium atau sekadar menjadi arsip jurnal. Inovasi harus dapat diwujudkan menjadi solusi yang memberi dampak bagi masyarakat," ujar Taruna.

Taruna juga menjelaskan bahwa kemajuan terapi gen, terapi sel, precision medicine, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan di bidang kesehatan perlu dibarengi tata kelola regulasi yang kuat dan berbasis bukti ilmiah.

"Regulations are about protecting hope," katanya.

Ia menekankan bahwa setiap obat, vaksin, maupun terapi baru harus melalui proses kajian ilmiah yang ketat demi menjaga keselamatan masyarakat dan kepercayaan publik.

Pada kesempatan tersebut, Taruna juga menyampaikan pentingnya kesiapan kawasan Asia Tenggara dalam menghadapi transformasi industri kesehatan global. Menurutnya, negara-negara di kawasan ini memiliki peluang memperkuat kapasitas riset, pengembangan bioteknologi, serta ekosistem farmasi dan regulasi kesehatan. Ia mendorong negara di Asia Tenggara tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga bagian dari pengembangannya.

Momentum akademik di Malaysia itu sekaligus menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai penguatan inovasi kesehatan dan kesiapan regulatori di tingkat regional. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, BPOM RI terus memperkuat pengawasan obat dan pangan melalui pendekatan berbasis sains, standardisasi internasional, dan penguatan kolaborasi guna memastikan produk kesehatan yang beredar memenuhi aspek keamanan, khasiat, dan mutu.

Dalam kegiatan tersebut, Taruna Ikrar hadir didampingi Ketua Dharma Wanita Persatuan BPOM RI Ny. Elfi Taruna Ikrar, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM William Adi Teja, beserta sejumlah jajaran dan perwakilan keluarga besar BPOM RI.

Hadir pula Wakil Menteri Tenaga Kerja RI Afriansyah Noor, Bupati Tanah Bumbu Kalimantan Selatan Andi Rudi Latif, serta sejumlah pemangku kepentingan dari sektor akademik dan pemerintahan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Tawa Kecil Kepala BPOM Anggarannya Disebut Lebih Kecil dari Pengadaan Kaos Kaki"
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads