Banyak Kasus Katup Jantung di RI Tak Terdeteksi, TAVI-MitraClip Bisa Jadi Solusi

Banyak Kasus Katup Jantung di RI Tak Terdeteksi, TAVI-MitraClip Bisa Jadi Solusi

Devandra Abi Prasetyo - detikHealth
Kamis, 04 Jun 2026 12:07 WIB
Heartbeat and heart shape on chalk board
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Mvltcelik)
Jakarta -

Sebagai negara berkembang, kasus Penyakit Jantung Rematik (PJR) di Indonesia masih cukup banyak. Di samping itu, penyakit katup degeneratif atau kerusakan karena usia juga tak sedikit jumlahnya.

Sebagai informasi, penyakit katup jantung yaitu keadaan di mana terjadi kerusakan atau kelainan pada katup jantung. Katup jantung merupakan salah satu komponen jantung, yang berperan seperti pintu, membuka dan menutup, untuk memastikan darah mengalir pada waktu dan arah yang benar, dari satu area jantung ke area jantung yang lain.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Prof Dr dr Antonia Anna Lukito, SpJP(K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FSCAI dari Siloam International Hospitals mengatakan belakangan Indonesia sedang dihadapkan oleh meningkatnya masalah katup jantung degeneratif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyak Kasus Penyakit Katup Jantung Tak Terdeteksi, Kenali Gejalanya dan Pilihan Terapinya

Penyakit katup jantung masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang kerap luput dari perhatian masyarakat. Di Indonesia, selain kasus Penyakit Jantung Rematik (PJR) yang masih banyak dijumpai, prevalensi penyakit katup jantung akibat proses penuaan (degeneratif) juga terus meningkat seiring bertambahnya usia lanjut, juga karena peningkatan harapan hidup populasi indonesia.

Katup jantung berfungsi seperti pintu satu arah yang mengatur aliran darah agar mengalir ke arah yang benar di dalam jantung. Ketika sirkulasi jantung dan pembuluh darah mengalami penyempitan (tidak membuka sempurna) atau kebocoran (tidak menutup sempurna), kerja jantung menjadi lebih berat dan pada akhirnya dapat mengganggu fungsi jantung secara keseluruhan.

ADVERTISEMENT

Prof Antonia menjelaskan bahwa banyak kasus penyakit katup jantung tidak terdeteksi pada tahap awal karena gejalanya sering kali tidak khas.

"Sering kali pasien hanya merasa lebih cepat lelah atau kemampuan beraktivitasnya menurun dibanding sebelumnya. Keluhan seperti ini kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan," ujarnya.

Faktor Risiko Penyakit Katup Jantung

Prof Antonia mengatakan penyakit katup jantung akibat degeneratif adalah pola hidup yang kurang baik.

"Lifestyle-nya, cara olahraga, asupan makanannya, dan kebiasaan-kebiasaan lain seperti merokok, kegemukan, atau kurang olahraga. Itu semua menentukan bagaimana proses degeneratif pada badannya saat usia mulai bertambah," katanya.

Salah satu perubahan di tubuh yang mungkin menjadi tanda adanya masalah di katup jantung adalah tubuh gampang lelah. Namun, Prof Antonia menekankan memang seringkali kondisi ini memunculkan tanda yang samar di awal.

"Khasnya penyakit jantung katup adalah gejalanya tidak kentara. Cepat lelah merupakan salah satu yang paling utama dan juga berdebar-debar, ataupun pingsan. Itu gejala yang menunjukkan gejala yang kondisinya agak lanjut," tegasnya.

"Jadi memang segera rutinkan medical check-up kalau kita punya anggota keluarga yang sudah lanjut usia. Karena kadang-kadang keluhannya tidak khas memang, jadi sulit terdeteksi," sambungnya.

Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai

Pertambahan usia merupakan faktor utama yang berperan dalam terjadinya degenerasi katup jantung. Namun, sejumlah kondisi dapat mempercepat proses tersebut, antara lain hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, penyakit ginjal kronis, kebiasaan merokok, obesitas, serta kurangnya aktivitas fisik.

Selain itu, penyakit katup jantung juga dapat terjadi akibat demam rematik, kelainan bawaan jantung, infeksi tertentu, maupun komplikasi dari penyakit jantung lainnya.

Pemeriksaan Penyakit Katup Jantung

Saat ini, lanjut Prof Antonia, terlebih yang berusia di atas 40 tahun atau lansia dan memiliki faktor risiko, pemeriksaan EKG atau Elektrokardiogram. Ini dapat berfungsi mendeteksi komplikasi seperti aritmia (gangguan irama) dan pembesaran ruang jantung akibat beban kerja katup yang berat.

"EKG itu karena ada di mana-mana, dan biayanya sangat hemat dan mudah dilakukannya. Tidak perlu spesialis khusus," katanya.

Tidak hanya untuk lansia, Prof Antonia juga menyarankan pemeriksaan rutin untuk para anak muda, terlebih mereka yang ingin mengecek kesehatan katup jantungnya.

"Ada juga penyakit jantung katup akibat kondisi jantung lainnya. Misalnya seseorang darah tinggi, kemudian minum obatnya, kalau tensinya tinggi saja. Tentunya ini tidak benar ya," katanya.

"Banyak orang hipertensi kemudian terjadi penebalan jantung, pembengkakan jantung yang menimbulkan masalah katup, dan pelebaran serambi jantung, yang bisa menimbulkan gangguan aritmia," sambungnya.

Gejala Sering Tidak Disadari

Pada tahap awal, penyakit katup jantung dapat berlangsung tanpa keluhan yang jelas. Seiring bertambah beratnya gangguan katup, pasien dapat mengalami:

  • Mudah lelah saat beraktivitas
  • Sesak napas, terutama saat berjalan atau menaiki tangga
  • Jantung berdebar
  • Nyeri dada
  • Bengkak pada tungkai
  • Pusing atau pingsan

Menurut Prof Antonia, gejala-gejala tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele, terutama pada individu yang memiliki faktor risiko penyakit katup jantung.

Pentingnya Pemeriksaan Rutin

Deteksi dini berperan penting dalam mencegah komplikasi penyakit katup jantung. Pemeriksaan kesehatan rutin dapat membantu mengidentifikasi kelainan sebelum muncul gejala berat.

Elektrokardiogram (EKG) dapat menjadi pemeriksaan awal yang mudah dijangkau untuk mendeteksi gangguan irama jantung maupun tanda pembesaran ruang jantung akibat beban kerja yang meningkat. Namun, pemeriksaan utama untuk menilai struktur dan fungsi katup jantung adalah ekokardiografi atau USG jantung.

Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat menentukan jenis dan tingkat keparahan kelainan katup sehingga penanganan yang diberikan menjadi lebih tepat.

Pilihan Terapi yang Semakin Berkembang

Kemajuan teknologi kedokteran memungkinkan sebagian pasien dengan penyakit katup jantung mendapatkan terapi tanpa operasi jantung terbuka.

Salah satu prosedur yang saat ini digunakan adalah Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI), yaitu tindakan untuk menangani stenosis aorta, kondisi ketika katup aorta mengalami penyempitan sehingga menghambat aliran darah dari jantung ke seluruh tubuh.

Melalui prosedur ini, katup baru dipasang menggunakan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah, sehingga tidak memerlukan pembukaan rongga dada seperti pada operasi konvensional.

Selain itu, terdapat pula prosedur MitraClip yang digunakan pada pasien dengan kebocoran katup mitral (regurgitasi mitral) tertentu. Tindakan ini dilakukan dengan memasang klip khusus pada katup untuk membantu mengurangi kebocoran dan memperbaiki fungsi jantung.

Meski demikian, tidak semua pasien dengan penyakit katup jantung cocok menjalani TAVI maupun MitraClip. Penentuan terapi dilakukan berdasarkan evaluasi menyeluruh oleh tim multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis jantung, dokter bedah jantung, serta tenaga kesehatan terkait lainnya.

Layanan Penanganan Penyakit Katup Jantung di Indonesia

Saat ini, berbagai layanan diagnosis dan terapi penyakit katup jantung modern telah tersedia di Indonesia, termasuk di Siloam Hospitals. Selain menyediakan pemeriksaan penunjang seperti EKG,ekokardiografi, MRI Jantung dan CT Jantung. Sejumlah rumah sakit dalam jaringan Siloam juga telah menyediakan tindakan intervensi kardiovaskular, termasuk TAVI dan MitraClip untuk pasien yang memenuhi indikasi medis.

Pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada tindakan, tetapi juga mencakup evaluasi menyeluruh, pemilihan terapi yang sesuai, serta pemantauan jangka panjang untuk memastikan hasil yang optimal bagi pasien.

Masyarakat diimbau untuk tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami gejala seperti mudah lelah, sesak napas, jantung berdebar, atau penurunan kemampuan beraktivitas yang tidak dapat dijelaskan. Deteksi dan penanganan sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi serta meningkatkan kualitas hidup pasien.

Menyoal TAVI dan MitraClip

Untuk mengatasi masalah di katup jantung, salah satu teknologi yang kini mulai banyak digunakan adalah TAVI atau Transcatheter Aortic Valve Implantation.

Prosedur ini digunakan untuk menangani stenosis aorta, yakni kondisi ketika katup aorta mengalami penyempitan sehingga aliran darah dari jantung ke seluruh tubuh terhambat.

Berbeda dengan operasi jantung terbuka, TAVI dilakukan secara minim invasif menggunakan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah, biasanya dari paha.

"Jadi katup baru dimasukkan ke katup lama, sesimpel itu," kata Prof Antonia.

Selain TAVI, ada pula teknologi MitraClip yang digunakan untuk menangani kebocoran katup mitral atau regurgitasi mitral.

Pada kondisi ini, katup mitral tidak menutup sempurna sehingga darah mengalir kembali ke serambi jantung. Akibatnya, pasien bisa mengalami sesak napas hingga gagal jantung bila tidak ditangani.

Melalui prosedur MitraClip, dokter memasang klip khusus untuk membantu daun katup menutup lebih rapat. Tindakan ini juga dilakukan tanpa operasi bedah terbuka.

Menurut Prof Antonia, dua prosedur ini karena termasuk Minimal Invasive Surgery (MIS), membuat pasien hanya membutuhkan waktu recovery terbilang sebentar. Bahkan, pasien bisa kembali pulang ke rumah setelah tiga hari, dan membutuhkan waktu 6-8 minggu untuk bisa beraktivitas normal, meski tidak langsung berat.

Prof Antonia menambahkan, sebelum diputuskan pasien menggunakan TAVI atau MitraClip, para dokter seperti dokter jantung hingga dokter bedah akan berkumpul untuk membuat keputusan.

"Itulah kekuatan multidisiplin dan hati untuk menentukan seseorang ini, sudah pantas dilakukan yang mana yang paling aman dan paling bagus untuk jangka panjangnya," katanya.

Meskipun banyak dikatakan dua prosedur ini 'advance', baik TAVI dan MitraClip sudah tersedia di jaringan Siloam International Hospitals. Hal ini menjadi komitmen rumah sakit untuk memberikan kemudahan, keamanan, dan kenyamanan bagi para pasien.

Kesiapan Penanganan Darurat Jantung di Siloam Hospitals Lippo Village

Siloam Hospitals Lippo Village telah menjadi Chest Pain Ready Hospital (CPRH), yaitu rumah sakit yang siap menangani kegawatdaruratan jantung secara cepat, tepat, dan terintegrasi. Kesiapan ini didukung oleh sistem end-to-end mulai dari IGD, pemeriksaan EKG dalam waktu kurang dari 10 menit, hingga kesiapan Cath Lab untuk tindakan katerisasi dan tim medis jantung multidisiplin 24/7, guna memastikan pasien mendapatkan penanganan tanpa penundaan.

Dengan mengusung prinsip "time is muscle", setiap menit sangat krusial dalam menyelamatkan otot jantung dan meningkatkan peluang hidup pasien. Jika mengalami gejala nyeri dada, masyarakat diimbau untuk segera menghubungi call center darurat Siloam di 1500911 untuk mendapatkan penanganan cepat dan tepat.

Halaman 2 dari 3
(dpy/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads