Menkes Bicara Dampak MBG ke Angka Stunting, Sudah Kelihatan?

Menkes Bicara Dampak MBG ke Angka Stunting, Sudah Kelihatan?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Senin, 22 Jun 2026 11:35 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin membeberkan penanganan kejadian luar biasa (KLB) campak di Indonesia saat rapat dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (20/4/2026). Kemenkes memprioritaskan vaksinasi campak bagi kelompok dewasa, menyusul
Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Lebih dari setahun makan bergizi gratis (MBG) berjalan, belum ada data keterkaitan MBG dengan tujuan utamanya yakni penurunan stunting. Sejumlah pihak menyoroti beberapa daerah tinggi kasus stunting, mencatat jumlah satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) lebih rendah ketimbang wilayah dengan prevalensi stunting lebih rendah.

Sebelumnya, Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena juga menekankan belum ada dampak signifikan terhadap penurunan angka stunting. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sanggau, prevalensi stunting pada triwulan I 2026 justru naik dibanding tahun sebelumnya.

Data Dinkes Sanggau mencatat angka stunting pada 2024 berada di level 21,48 persen. Angka tersebut sempat turun menjadi 20,50 persen pada 2025. Namun pada triwulan I 2026, prevalensi stunting kembali naik menjadi 21,82 persen atau meningkat 1,32 persen dibanding tahun sebelumnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai keberhasilan MBG dalam menekan stunting memang tidak bisa dilihat secara instan. Menurutnya, kelompok yang paling menentukan keberhasilan pencegahan stunting adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

ADVERTISEMENT

"Kalau MBG ini benar-benar jalan sukses ke depan, itu sangat mengurangi beban kesehatan," kata Budi.

Ia mengaku telah meminta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memberi perhatian lebih besar pada ibu hamil. Menurutnya, kekurangan gizi selama kehamilan menjadi akar berbagai masalah kesehatan yang muncul pada anak setelah lahir.

"Saya bilang ke Bu Nanik, boleh nggak saya fokus ke ibu hamil. Tolong dibantu supaya gizinya bagus," ujarnya.

Budi menegaskan dirinya bukan tidak setuju dengan pemberian makanan bergizi untuk anak sekolah. Namun, dari perspektif kesehatan, kelompok yang harus menjadi prioritas adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang masih berada pada periode emas pertumbuhan.

"Begitu hamil jangan sampai kurang gizi karena nanti anaknya banyak masalah kesehatan. Kemudian ibu menyusui selama dua tahun gizinya juga harus jalan. Dan balita, justru yang belum masuk sekolah itu golden period bahwa gizinya masih harus terpenuhi," jelasnya.

Karena itu, intervensi gizi pada periode awal kehidupan dinilai jauh lebih menentukan dalam mencegah stunting dibanding ketika anak sudah memasuki usia sekolah.

Meski begitu, pemerintah saat ini masih mengumpulkan data untuk mengukur dampak MBG terhadap status gizi penerima manfaat. Pemantauan tersebut dilakukan oleh Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

"Yang di sekolah sedang dikerjakan Kemendikdasmen dan Kemenkes. Nanti kita bisa lihat perkembangan gizinya seperti apa. Ini akan jadi evidence based apakah programnya sudah benar atau yang kurang masih di sini-sini," pungkasnya.

Dengan kata lain, hingga saat ini pemerintah belum menyampaikan data yang secara langsung menunjukkan penurunan angka stunting akibat program MBG. Evaluasi berbasis bukti masih dilakukan untuk melihat sejauh mana program tersebut berdampak terhadap perbaikan status gizi masyarakat.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Target Pramono: Angka Stunting di Jakarta Turun Jadi 14% dalam 2 Tahun"
[Gambas:Video 20detik] (naf/kna)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads