Saran Dokter Biar Tetap Produktif Kerja usai Begadang Nonton Piala Dunia

Saran Dokter Biar Tetap Produktif Kerja usai Begadang Nonton Piala Dunia

detikHealth
Kamis, 25 Jun 2026 17:01 WIB
Devandra Abi Prasetyo
Ditulis oleh:
Devandra Abi Prasetyo
Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fans Manchester United yang juga eks pesepakbola semi-profesional. Banyak menulis soal olahraga dari sudut pandang hidup sehat.
Soccer Football - FIFA World Cup 2026 - Group A - Czech Republic v South Africa - Atlanta Stadium, Atlanta, Georgia, U.S. - June 18, 2026 General view inside the stadium as Czech Republic and South Africa warm up before the match REUTERS/Bernadett Sz
Ilustrasi keseruan Piala Dunia 2026 (Foto: REUTERS/Bernadett Szabo)
Jakarta -

Demam Piala Dunia tahun ini memang sulit untuk dilewatkan. Alhasil, demi saksi hidup kemenangan tim jagoan, banyak pekerja yang nekat terjaga hingga dini hari.

Masalahnya, pertandingan Piala Dunia juga tersaji di hari-hari kerja, sehingga seringkali banyak dari pekerja yang dilema dalam memilih nonton pertandingan dan konsekuensi pekerjaan.

Menurut dokter Spesialis Kedokteran Okupasi, dr Muchammad Arief Gunawan, SpOK kondisi seperti ini sedikit banyak masih bisa disiasati. Pasalnya, momen Piala Dunia ini hanya terjadi dalam kurun waktu tertentu, tidak dalam jangka panjang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau memang bisa nggak live itu lebih bagus, pasti ada record-nya kan? Tapi nggak seru ya kalau nggak live. Kalau mau di jam istirahat siang tuh, sekitar 30-45 menit lakukan istirahat, quick nap atau istirahat secara singkat," kata dr Arief saat ditemui di Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2026).

ADVERTISEMENT

Selain itu, jika seseorang ingin mencoba bangun dini hari dan menonton laga tim kesayangan, menurut dr Arief sebaiknya harus tidur lebih cepat.

"Kalau memang rencana mau nonton jam 4 atau 5 pagi atau 3 pagi, ya jam 8 atau jam 9 tuh harus sudah tidur," katanya.

dr Arief menyadari bahwa banyak juga yang kesulitan untuk tidur di jam-jam tersebut, mengingat kebiasaan mereka yang mungkin tidur di atas jam 11 malam.

"Nah, caranya paling handphone-nya matiin. Jam 8 atau 9, HP matiin, lampunya diredupin usahakan tidur," katanya.

dr Arief juga mengingatkan bahwa keputusan ini, yang nantinya mungkin membuat seseorang kekurangan waktu tidur akan berisiko kepada performa pekerjaan.

"Decision making-nya tuh bisa bermasalah. Misalnya dia disuruh kerja A, malah ngerjain B. Kemudian di perjalanan, hati-hati microsleep, tiba-tiba merem," tutupnya.



(dpy/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads