Dalam beberapa tahun terakhir, industri skincare berkembang sangat pesat. Konsumen kini memiliki ratusan pilihan produk dengan rentang harga yang sangat beragam, mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.
Perbedaan harga tersebut sering memunculkan pertanyaan: apakah skincare yang mahal selalu memiliki formula yang jauh lebih baik?
Menurut Dr David Lee Thompson, jawabannya tidak sesederhana itu. David berpendapat harga sebuah produk kosmetik dibentuk oleh banyak komponen, bukan hanya biaya bahan baku atau formulasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain riset dan produksi, perusahaan juga mengeluarkan biaya untuk desain kemasan, distribusi, promosi digital, kerja sama dengan influencer, iklan, pembangunan citra merek, hingga biaya operasional perusahaan.
Akibatnya, terdapat produk yang dipasarkan dengan harga tinggi karena strategi positioning sebagai merek premium, bukan semata-mata karena biaya bahan aktifnya.
David menilai kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat beranggapan bahwa skincare berkualitas harus selalu mahal. Padahal menurutnya, dengan proses produksi yang efisien dan pengendalian biaya yang baik, perusahaan tetap dapat menghadirkan produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.
Pandangan inilah yang kemudian menjadi salah satu filosofi di balik pengembangan Skinberries. Perusahaan berupaya memfokuskan investasi pada pengembangan formulasi dan pengendalian mutu, sambil menjaga harga agar tetap kompetitif.
David juga menilai bahwa konsumen saat ini semakin cerdas. Mereka mulai membaca komposisi bahan aktif, memahami fungsi setiap kandungan, dan tidak lagi hanya bergantung pada popularitas sebuah merek.
David mendorong masyarakat untuk membandingkan produk berdasarkan komposisi, keamanan, hasil uji yang tersedia, serta kesesuaian dengan kebutuhan kulit masing-masing.
Meski demikian, David juga mengingatkan bahwa harga yang tinggi tidak selalu berarti tidak sepadan. Beberapa perusahaan memang menginvestasikan dana besar untuk penelitian jangka panjang, pengembangan teknologi formulasi, maupun uji klinis yang komprehensif.
Karena itu, menurutnya konsumen sebaiknya tidak menilai sebuah produk hanya dari harga atau popularitasnya.
"Yang terpenting adalah transparansi. Konsumen berhak mengetahui apa yang mereka beli dan mengapa sebuah produk memiliki harga tertentu," ujar David, dalam keterangan tertulis, Jumat (3/7/2026).
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah produk skincare tidak hanya ditentukan oleh strategi pemasaran, tetapi juga oleh kualitas formulasi, keamanan, kepatuhan terhadap regulasi, serta pengalaman nyata para penggunanya.
Dengan semakin banyaknya edukasi mengenai kandungan aktif dan cara kerja skincare, diharapkan masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih bijak berdasarkan informasi, bukan sekadar persepsi terhadap sebuah merek.











































