Kenapa Sulit Keluar dari Hubungan Toksik? Dokter Ungkap Fakta Trauma Bonding

Kenapa Sulit Keluar dari Hubungan Toksik? Dokter Ungkap Fakta Trauma Bonding

Elmy Tasya Khairally - detikHealth
Minggu, 05 Jul 2026 20:05 WIB
Young Asian married couple after a fight, Angry couple ignoring each other, relationship troubles.
Foto: Ilustrasi hubungan toksik (Getty Images/Filmstax)
Jakarta -

Tidak sedikit korban hubungan toksik yang memilih bertahan meski terus mengalami perlakuan yang menyakitkan. Keputusan ini kerap menimbulkan pertanyaan dari orang-orang di sekitarnya yang menganggap korban seharusnya bisa dengan mudah meninggalkan pasangannya.

Padahal tidak sesimpel itu, ada faktor yang dapat membuat korban merasa sulit melepaskan diri. Spesialis kejiwaan dr Erickson Arthur S, SpKJ mengatakan alasan korban sulit keluar dari hubungan toksik adalah trauma bonding. Saat mengalami trauma bonding, dokter menyebut ada fase-fase siklus yang terjadi.

"Yang pertama, tadi kan sudah jelas ada kekerasan. Kekerasan yang terjadi bisa fisik, verbal, atau seksual. Memang itu pasti tidak nyaman ya. Tapi ternyata fasenya tidak sampai di situ," kata dr Erick.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

dr Erick menjelaskan, pelaku kekerasan biasanya akan memasuki fase berikutnya, misalnya dengan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.

ADVERTISEMENT

"Pelaku bisa melakukan fase selanjutnya, yaitu meminta maaf dan akhirnya bermanis-manis lagi, memberikan harapan lagi. Itu yang akhirnya membuat ada ikatan secara emosional," ungkap dr Erick.

Ikatan emosional yang terbentuk membuat korban terus memaafkan pasangannya, terlebih jika hubungan tersebut sudah berlangsung lama. Namun, siklus tersebut umumnya akan terus berulang.

"Akhirnya dia (korban) susah untuk menyingkir atau menyudahi hubungan itu," ungkapnya.

"Itulah yang namanya manipulatif. Dia (pelaku) akan mencari cara agar tidak ditinggalkan, dengan cara meminta maaf," tambah dr Erick.



(elk/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads