Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar membagikan ilmu penting soal Neuroleadership kepada mahasiswa STIK Lemdiklat Polri. Menurutnya, menjadi pemimpin masa depan di era digital tidak cukup dengan modal jabatan dan pengalaman, tapi wajib memahami cara otak bekerja.
Neuroleadership merupakan pendekatan kepemimpinan modern yang memanfaatkan fungsi sains otak untuk mengelola emosi, mengambil keputusan, hingga berkolaborasi.
"Transformasi kepemimpinan harus dimulai dari transformasi diri. Seorang pemimpin yang mampu mengelola pikirannya akan mampu membawa perubahan bagi bangsa," ujar Taruna dalam keterangan yang diterima detikcom, Senin (6/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penjelasannya, Taruna mengungkapkan konsep ini bertumpu pada 4 prinsip utama, yakni:
- Self-regulation: Kemampuan mengendalikan emosi.
- Mindfulness: Kesadaran penuh dalam setiap situasi.
- Empathy-based leadership: Memimpin dengan empati dan rasa percaya.
- Decision based on logic: Mengambil keputusan rasional berbasis data ilmiah.
Lebih lanjut, Taruna mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan organ otak sebagai modal utama memimpin. Berkat kemampuan neuroplastisitas yang terus berkembang dengan proses belajar tanpa pandang usia.
Artinya, kemampuan memimpin bukan sekadar bakat lahir, melainkan kapasitas otak yang bisa terus dilatih dan diasah.
Menurut Taruna, pendekatan berbasis ilmiah ini dinilai krusial bagi Indonesia yang sedang menghadapi bonus demografi sekaligus tantangan global. Mulai dari perubahan iklim hingga revolusi AI atau Artificial Intelligence.
"Indonesia butuh pemimpin yang mampu berpikir ilmiah, cepat adaptasi teknologi, tapi tetap humanis. Neuroleadership bikin pemimpin gak cuma cerdas intelektual, tapi juga matang secara emosional," lanjutnya.
Melalui kuliah umum ini, Taruna berharap bisa lahir generasi baru pemimpin Polri yang adaptif, berintegritas, dan siap membawa Indonesia menuju era Indonesia Emas 2045.










































