Anemia Masih Jadi Tantangan, Deteksi Dini Kekurangan Zat Besi Kini Bisa Pakai AI

Anemia Masih Jadi Tantangan, Deteksi Dini Kekurangan Zat Besi Kini Bisa Pakai AI

detikHealth
Selasa, 07 Jul 2026 07:51 WIB
Mhd. Aldrian, S.Gz
Ditulis oleh:
Mhd. Aldrian, S.Gz
Lulusan sarjana ilmu gizi Universitas Andalas, memiliki minat dalam hal keamanan dan kesehatan pangan. Saat ini menjadi penulis lepas untuk detikHealth.
President Danone Asia Pacific, Bruno Chevot
President Danone Asia Pacific, Bruno Chevot (Foto: Mhd. Aldrian, S.Gz/detikHealth)
Jakarta -

Anemia masih menjadi salah satu persoalan gizi yang belum terselesaikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 11 juta anak berusia di bawah lima tahun di Asia Tenggara mengalami anemia akibat defisiensi zat besi.

Di Indonesia sendiri, sekitar satu dari empat anak mengalami anemia. Fakta ini menunjukkan, anemia defisiensi besi masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan anak.

Anemia defisiensi zat besi terjadi ketika tubuh kekurangan zat besi untuk membentuk hemoglobin, protein di dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh. Dampaknya tidak hanya membuat anak mudah lelah, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, sistem kekebalan tubuh, hingga proses tumbuh kembang apabila berlangsung dalam jangka panjang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

President Danone Asia Pacific, Bruno Chevot, mengatakan salah satu hambatan terbesar dalam mengatasi anemia adalah banyak kasus yang belum terdeteksi sejak awal. Akibatnya, anak baru diketahui mengalami kekurangan zat besi setelah gejalanya mulai muncul.

"Kalau kita tidak mengetahui bahwa seorang anak berisiko mengalami kekurangan zat besi, kita tidak akan bisa mengatasinya. Karena itu, langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran dan mempermudah deteksi sejak dini," ujar Bruno dalam sesi diskusi di Jakarta Selatan, Senin (6/7/2026).

ADVERTISEMENT

Inovasi Skrining Anemia Tanpa Pengambilan Darah

Untuk menjawab tantangan tersebut, perkembangan artificial intelligence (AI) mulai dimanfaatkan dalam proses skrining anemia melalui teknologi Iron-Tracking.

Iron Tracking merupakan alat skrining awal yang dirancang untuk membantu mengenali risiko kekurangan zat besi tanpa perlu pengambilan sampel darah. Berbeda dengan pemeriksaan laboratorium yang membutuhkan jarum suntik dan analisis darah, teknologi ini menggunakan kamera pada smartphone untuk memindai bagian iris mata. Hasil pemindaian kemudian dianalisis menggunakan algoritma AI guna menentukan status anemia akibat defisiensi zat besi.

Karena tidak memerlukan pengambilan darah, metode ini disebut non-invasif, yaitu pemeriksaan yang tidak memasukkan alat ke dalam tubuh maupun melukai jaringan tubuh. Pendekatan ini diharapkan dapat membuat proses skrining menjadi lebih mudah, nyaman, dan menjangkau lebih banyak masyarakat sebagai langkah awal sebelum dilakukan pemeriksaan medis lanjutan.

"Ke depan, kami melihat teknologi dapat membantu proses skrining anemia menjadi lebih mudah. Dengan memanfaatkan smartphone, pemeriksaan awal bisa dilakukan secara non invasif sehingga lebih banyak masyarakat dapat menjangkaunya," kata Bruno.

Menurut Bruno, pemanfaatan teknologi juga memungkinkan proses skrining dilakukan dalam skala yang lebih luas. Semakin banyak anak yang diketahui berisiko sejak awal, semakin cepat pula intervensi gizi maupun pemeriksaan lanjutan dapat diberikan. Harapannya, deteksi dini tidak lagi menjadi kendala dalam upaya menurunkan angka anemia pada anak, terutama di wilayah yang akses layanan kesehatannya masih terbatas.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Moms Mau Anak Tumbuh Optimal? Jangan Sampai Nutrisi Ini Terlewat"
[Gambas:Video 20detik] (mal/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads