Studi Korsel: Jadwal Tidur Buruk Tingkatkan Pikiran Bunuh Diri Siswa

Studi Korsel: Jadwal Tidur Buruk Tingkatkan Pikiran Bunuh Diri Siswa

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Selasa, 14 Jul 2026 09:00 WIB
Pola tidur remaja yang berantakan sering kali dianggap sepele. Di Korsel, ternyata kondisi ini bisa memicu risiko percobaan bunuh diri.
Foto ilustrasi: Getty Images/spukkato
Jakarta -

CATATAN: Depresi dan keinginan bunuh diri adalah kondisi serius yang tidak boleh dianggap sepele. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan emosional atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi layanan kesehatan jiwa terdekat atau layanan darurat Healing 119. Anda tidak sendirian.

Pola tidur remaja yang berantakan sering kali dianggap sepele. Tetapi, sebuah studi menyoroti bahaya nyata di balik gangguan jadwal tidur ini.

Remaja yang mengalami 'social jetlag' atau ketimpangan jam tidur yang parah antara hari sekolah dan akhir pekan, terbukti berisiko lebih tinggi memicu pikiran hingga percobaan bunuh diri. Hal ini terjadi pada sejumlah remaja di Korea Selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

'Social jetlag' merupakan kondisi ketidaksesuaian antara jam biologis tubuh dengan tuntutan jadwal sosial. Hal ini paling sering terjadi saat remaja harus bangun sangat pagi pada hari sekolah, tetapi membalas dendam waktu tidur dengan tidur dan bangun jauh lebih siang saat akhir pekan.

Penelitian berskala besar ini menganalisis data dari Korean Youth Risk Behavior Survey tahun 2024 yang melibatkan 48.101 siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di Korea Selatan.

ADVERTISEMENT

Hasil studi ini dipublikasikan dalam Korean Journal of Health Research oleh Han Seung-jun dari Departemen Manajemen Kesehatan, Graduate School of Kyung Hee University.

Semakin Berantakan Jam Tidur, Risiko Semakin Melonjak

Dalam studi tersebut, peneliti mengukur tingkat 'social jetlag' dengan membandingkan titik tengah waktu tidur para siswa pada hari sekolah dan akhir pekan. Hasilnya, sebanyak 53,5 persen remaja mengalami 'social jetlag' setidaknya satu jam atau lebih.

Data riset menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Semakin besar kesenjangan waktu tidur remaja, maka grafik perilaku terkait bunuh diri yang mereka laporkan dalam 12 bulan terakhir juga semakin tinggi.

Berikut adalah rincian data dampaknya berdasarkan tingkat keparahan gangguan tidur:

  • Pikiran Bunuh Diri: Dialami oleh 14,2 persen remaja dengan 'social jetlag' lebih dari 2 jam. Angka ini lebih tinggi dibandingkan mereka yang gangguan tidurnya di bawah 1 jam (11,2 persen).
  • Rencana Bunuh Diri: Dilaporkan oleh 5,5 persen remaja dengan 'social jetlag' lebih dari 2 jam, berbanding 3,9 persen pada kelompok di bawah 1 jam.
  • Percobaan Bunuh Diri: Menyentuh angka 3,2 persen pada kelompok gangguan tidur di atas 2 jam, sementara kelompok di bawah 1 jam berada di angka 2,0 persen.

Pentingnya Menjaga Keteraturan Jam Tidur

Para peneliti menjelaskan bahwa kekacauan jadwal tidur ini bukan sekadar masalah rasa kantuk di ruang kelas. Lebih dari itu, 'social jetlag' dapat memperparah stres psikologis dan meningkatkan kerentanan emosional pada usia remaja.

"Remaja dengan 'social jetlag' yang lebih besar menunjukkan risiko yang jauh lebih tinggi terhadap pikiran, rencana, dan upaya bunuh diri," tulis laporan ilmiah tersebut, dikutip dari Korea JoongAng Daily.

Sebagai langkah pencegahan, studi ini menegaskan pentingnya intervensi pada pola tidur anak muda. Menjaga keteraturan ritme tidur dan menyelaraskannya dengan aktivitas harian, harus mulai menjadi perhatian serius bagi orang tua dan institusi pendidikan demi melindungi kesehatan mental remaja.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Ada 4 Kasus Anak Bunuh Diri di Awal 2026, Ini Kata Menkes"
[Gambas:Video 20detik] (sao/kna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads