Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Naniek Sudaryati Deyang menyinggung dirinya mengalami 'trauma akut' terkait urusan keuangan usai memutuskan mundur dari jabatannya karena alasan kesehatan.
Hal itu disampaikan Naniek melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Rabu (22/7). Dalam unggahan tersebut, ia mengungkap kemungkinan tetap diminta Presiden Prabowo Subianto mengawasi BGN melalui dewan pengawas.
"Presiden menyetujui, namun saya diminta tetap ikut mengawasi BGN. Kemungkinan Presiden akan membentuk dewan pengawas, di mana saya disuruh menjadi ketua dewan pengawasnya," tulis Naniek, dikutip detikcom atas izin yang bersangkutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia kemudian berkelakar masih sanggup memberikan masukan, asalkan tidak lagi menangani urusan keuangan.
"Kalau mencereweti kayaknya masih bisa, yang penting tidak berhubungan dengan pegang uang, sumpah trauma akuttt," lanjutnya disertai emoji tertawa.
Dalam unggahan yang sama, Naniek menjelaskan dirinya mengundurkan diri sebagai Kepala BGN karena akan menjalani pengobatan jantung di luar negeri.
"Saya sampaikan ke Presiden juga dengan beribu maaf sepertinya saya harus mundur sebagai Kepala BGN, demi kesehatan saya," ujarnya.
Meski tak lagi menjabat, Naniek menegaskan dirinya tetap akan mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Dikutip dari Healthline, trauma akut adalah respons emosional atau psikologis intens akibat satu peristiwa tunggal yang berbahaya, yang dapat memicu Acute Stress Disorder (ASD) atau berkembang menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) jika gejalanya menetap lebih dari satu bulan. Langkah pemulihan melibatkan perawatan diri, mempertahankan rutinitas, dan mencari bantuan profesional jika gejala mengganggu kehidupan sehari-hari.
Gejala trauma akut biasanya muncul dalam 3 hari hingga 1 bulan setelah peristiwa traumatis terjadi.
1. Gejala Intrusif (Terus Terbayang)
Memori tentang kejadian buruk tersebut terus muncul tanpa bisa dikendalikan.
Kilas balik (flashbacks): Merasa atau bertindak seolah-olah peristiwa traumatis itu sedang terjadi kembali saat ini.
Mimpi buruk: Mengalami mimpi buruk berulang yang berkaitan dengan kejadian tersebut.
Ingatan emosional: Munculnya bayangan atau memori secara tiba-tiba yang memicu stres mental atau fisik yang parah.
2. Suasana Hati yang Negatif
Perubahan drastis pada kondisi emosional pascakejadian.
Mati rasa emosional: Kesulitan merasakan emosi positif seperti kebahagiaan, kepuasan, atau cinta.
Putus asa: Merasa sedih berkepanjangan, cemas, atau hampa.
3. Gejala Disosiatif (Merasa Terputus)
Respons perlindungan otak yang membuat penderita merasa terasing dari realita.
Dunia terasa tidak nyata: Merasa lingkungan sekitar atau orang lain seperti berada di dalam mimpi atau film (derealization).
Asing dengan diri sendiri: Merasa terpisah dari tubuh atau emosi sendiri (depersonalization).
Amnesia disosiatif: Ketidakmampuan untuk mengingat bagian penting atau detail spesifik dari peristiwa traumatis tersebut.
4. Gejala Penghindaran
Upaya sadar maupun tidak sadar untuk menjauh dari segala hal yang memicu memori buruk.
Menghindari pikiran: Berusaha keras tidak memikirkan atau membicarakan perasaan terkait trauma.
Menghindari faktor eksternal: Menjauhi tempat, orang, percakapan, atau aktivitas yang mengingatkan pada kejadian tersebut.
5. Peningkatan Gairah Saraf (Arousal)
Tubuh terus berada dalam mode siaga atau bertahan (fight-or-flight).
Gangguan tidur: Sulit untuk mulai tidur atau sering terbangun di malam hari.
Gelisah dan peka: Menjadi sangat mudah terkejut oleh suara keras atau gerakan tiba-tiba.
Masalah fokus: Mengalami kesulitan besar untuk berkonsentrasi pada tugas sehari-hari.
Mudah marah: Menjadi sangat sensitif, mudah tersinggung, atau mengalami ledakan kemarahan tanpa alasan yang jelas.










































