Nggak Cuma Pulau Jawa, BMKG Ungkap Daerah Ini Juga Alami Fenomena Bediding

Nggak Cuma Pulau Jawa, BMKG Ungkap Daerah Ini Juga Alami Fenomena Bediding

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Kamis, 30 Jul 2026 06:05 WIB
Wisatawan mengunjungi kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Probolinggo, Jawa Timur, Minggu (27/7/2025). BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur mencatat fenomena bediding atau suhu dingin terjadi akibat aktifnya angin monsun timuran yan
Bromo (Foto: ANTARA FOTO /Irfan Sumanjaya)
Jakarta -

Fenomena suhu dingin atau bediding yang dirasakan masyarakat saat ini tidak hanya terjadi di Pulau Jawa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena serupa juga terjadi di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan bediding merupakan fenomena yang normal terjadi saat musim kemarau. Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga puncak musim kemarau pada Agustus-September 2026.

"Fenomena suhu dingin atau *bediding di Jawa saat ini merupakan hal yang normal pada musim kemarau. BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh, mengenakan pakaian hangat saat malam/pagi, serta menjaga asupan cairan. Kondisi ini diperkirakan masih berlangsung hingga puncak kemarau pada Agustus-September 2026 dan tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga di Bali, NTB, dan NTT," kata Guswanto saat dihubungi detikcom, Rabu (29/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut data suhu di wilayah yang mengalami suhu dingin bediding.

ADVERTISEMENT

Jawa Timur

  • Batu 12 derajat celcius
  • Bromo 5,1 derajat celcius

Jawa Tengah

  • Dieng -6 derajat celcius (embun es)
  • Wonosobo 14-17 derajat celcius

Jawa Barat

  • Beberapa daerah pegunungan di bawah 15 derajat celcius

Bali, NTB, NTT

  • Suhu lebih rendah malam hingga pagi

Lebih lanjut, Guswanto mengatakan fenomena bediding umumnya terjadi saat malam hingga pagi hari ketika musim kemarau. Langit yang cerah dan minim tutupan awan membuat panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas sehingga suhu udara pada malam hari menjadi lebih rendah.

Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh Monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering dari wilayah selatan khatulistiwa. Suhu dingin pun lebih terasa di wilayah Indonesia bagian selatan, terutama di daerah dataran tinggi.

Ia mengimbau bagi masyarakat di wilayah yang mengalami bediding diimbau tetap menjaga kesehatan dengan mengenakan pakaian hangat saat malam dan pagi hari serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh.

"Cukup cairan tubuh. Meski udara dingin, siang hari tetap terik sehingga tubuh mudah dehidrasi. ⁠Waspada penyakit pernapasan. Bediding dapat memicu flu, ISPA, dan gangguan kesehatan lain," lanjutnya.



(suc/suc)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads